Thank's To The Night

Sebelum saya bercerita saya ingin memperkenalkan dulu nama saya Andrey, seorang engineer. Saya berumur 28 tahun dan kerja di salah satu konsultan teknologi informasi di Bandung. Hampir seminggu sekali selama 2 hari saya berada di Jakarta, karena saya diutus kantor untuk mengurusi proyek yang ada di Jakarta. Itu artinya saya sering menggunakan jasa kereta buat pulang pergi Jakarta-Bandung. Sebetulnya saya sudah mempunyai seorang kekasih di Bandung dan tahun ini berencana untuk menikah, hanya saya masih ragu, dan hal ini yang sering membuat kami bertengkar.
Pada hari itu saya berangkat ke Jakarta dengan perasaan bete banget karena pacar saya ternyata tidak ada di tempat kost, dan menurut teman kostnya dia pergi dari tadi malam dan sampai sekarang belum pulang. Saya sudah mencoba hubungi lewat phonselnya, tapi tidak pernah aktif. Kereta Argo Gede yang membawa saya ke Jakarta sore itu memang cukup padat, untungnya saya sudah memesan tiket lebih dulu ke salah satu pramugari yang saya kenal di kereta, karena kebetulan dia ternyata adik kelas saya waktu di SMU.
Saya langsung menuju kursi yang tertera dalam tiket dan berniat untuk langsung tidur karena lelah, soalnya semalam saya dengan teman-teman nongkrong dulu di Cafe Sapu Lidi, jadi baru tidur malam tadi pukul 3 dini hari. Ternyata di sebelah kursi saya sudah duduk seorang wanita kira-kira berumur 30 tahunan. Hanya dari caranya berpakaian terlihat orang itu adalah eksekutif muda, pakaiannya cukup seksi dengan rok span agak mini, kira-kira 10 centi di atas lutut, ditambah dengan kaos ketat putih yang ditutupi blazer coklat muda sangat cocok dengan kulitnya yang putih.
Harum Giovanni sekelibat menusuk hidung, wanginya seksi sekali, tapi karena pikiran saya lagi ‘butek’ saya langsung saja mangambil posisi tidur. Sandaran kursi saya tarik ke belakang sambil tidak lupa bilang permisi kepada wanita di samping saya itu. Dia hanya tersenyum sambil mengangkat phonselnya yang berdering. Samar-samar saya mendengar kalau telepon itu dari anak buahnya atau supirnya, karena dia bilang kalau memang mobilnya sedang di bengkel tidak perlu dijemput, biar pakai taksi saja.
Tidak terasa satu jam saya tertidur, saya terbangun ketika merasa ada kepala yang bersandar di pundak saya, ternyata gadis itu juga tertidur dan tanpa disengaja kepalanya menyender ke bahu saya. Ingin saya membangunkannya karena mulai terasa pegal, tapi ketika saya melihat gadis itu tertidur pulas, rasanya jadi tidak tega, lagian wangi rambutnya membuat saya betah dengan posisi itu. Saya terus memandangi wajah cantik yang tertidur pulas itu. Hidungnya mancung dengan bibir tipis yang dibalut polesan lipstik merah muda, terlihat seksi sekali.
Kemudian tanpa disengaja mata saya menyusur ke bawah menuju belahan dadanya, putih sekali dengan dua gumpalan daging yang padat dan cukup besar. Saya taksir kira-kira berukuran 36C. Setelah cukup lama memperhatikan buah dadanya, mata saya turun lagi ke bawah, bagian pahanya yang terbalut dengan rok span. Dengan posisi kaki yang sedikit menyilang membuat roknya tersingkap agak ke atas. Mungkin kalau saya membungkukkan kepala sedikit ke depan, celana dalamnya pasti terlihat dengan jelas, tapi dengan kepalanya yang bersandar ke bahu saya, tidak memungkinkan saya melakukannya.
Melihat pemandangan seperti itu justru membuat darah saya berdesir dan menjalar ke pangkal paha saya. Tidak terasa penis saya mulai bergerak naik, agak sakit memang, karena dengan posisi duduk saya, penis ini menjadi tidak bebas bergerak. Akhirnya saya hanya dapat berdiam diri saja.
Dua puluh menit sudah saya dalam posisi itu sampai akhirnya dia terbangun, tersadar akan posisinya yang menyandar pada diri saya. Gadis itu segera bangun dan tersenyum sambil meminta maaf.
“Aduh.., sorry ya Mas.., saya enggak sengaja, abis ngantuk banget sih.” katanya sopan.
“Engga pa-pa kok, soalnya rambut kamu wangi banget, jadi saya betah.” kata saya sambil tersenyum.
Dia langsung mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri, “Oh ya, kita belum kenalan, nama saya Neva.”
“Saya Andrey.” kata saya sambil membalas jabat tangannya, terasa lembut sekali.
Kami jadi ngobrol kemana-mana, dari ceritanya saya tahu dia salah seorang manajer marketing di perusahaan penyedia jasa internet di Jakarta. Kami ngobrol seperti orang yang sudah kenal tahunan. Saya merasa Neva orangnya supel, sedikit bebas, dan tidak terlalu memikirkan masa yang akan datang.
Dia bilang, “Nikmati aja hidup sekarang, kalo buat besok sih ya gimana besok aja.” katanya sambil tertawa renyah, pas sekali dengan prinsip saya.
Kereta sudah sampai di Jatinegara, yang berarti 10 menit lagi sampai Gambir.
Iseng saya bertanya, “Kamu pulang pake apa..?”
“Pake taksi aja, abis mobil saya lagi di bengkel.”
“Wah kasian kamu, malem-malem gini pake taksi sendirian, gimana kalo saya anter aja, kebetulan mobil saya, saya parkir di Gambir.”
“Emang pulangnya kemana..?” tanya saya lagi.
“Ke daerah Senen, saya kontrak rumah di sana.”
“Kalo gitu kebeneran dong, rumah saya juga di daerah cempaka putih, jadi kita kan satu jalan, mau kan bareng saya..?” kata saya lagi.
Dia berpikir sebentar, dan akhirnya, “Boleh deh, tapi jangan perkosa saya ya..! Hahaha..” tawanya begitu lepas.
Akhirnya kami pulang bersama. Sedikit memaksa, Neva menawari untuk mampir ke rumah kontrakannya. Saya sebenarnya sudah capek dan ingin langsung pulang ke rumah orangtua saya.
Tetapi dengan memelas, Neva menarik tangan saya dan bilang, “Ayo dong Mas, temenin Neva bentar aja, Neva masih pengen ngobrol nih, kan baru jam 9 malem, masa Neva musti bengong nontonin TV, soalnya Neva biasa tidur jam dua belasan.”
Akhirnya saya bilang, “OK deh, cuma saya bisa ikut mandi kan..? Abis badan saya udah lengket nih..!”
Saya ditariknya ke kamar tidur Neva. Mulanya saya bingung, karena saya ijin mandi kok malah ke kamar tidur, ternyata kamar mandinya memang berada di ruang tidur itu. Akhirnya saya ijin untuk mandi.
Neva memberikan sebuah handuk dan sabun mandi sambil berkata, “Jangan dipake ngocok lho..!”
Gila nih cewek, kok bercandanya dari tadi tidak jauh dari soal gituan. Saya langsung menyalakan shower, dan membilas semua badan dengan air hangat.
Tiba-tiba pintu diketuk, saya langsung mematikan shower, “Ada apa Nev..?” tanya saya dari dalam.
“Mas saya lupa, kalo sikat giginya ketinggalan.” teriaknya pelan dari balik pintu.
Perlahan saya buka pintu sedikit, saya tengokkan kepala, dan mendapati ternyata Neva hanya berbalut handuk kecil tipis berwarna putih sehingga tonjolan putingnya tampak begitu jelas sedikit kecoklatan. Yang lebih edan lagi adalah bagian bawahnya, nyaris memperlihatkan pangkal pahanya.
“Kamu mo mandi juga ya Nev..?”
“He eh.., boleh enggak ikutan..?” tanyanya manja.
Saya rasanya bodoh jika mengatakan tidak. Saya buka lebar-lebar daun pintu, secara refleks Neva melihat ke bagian bawah saya yang masih telanjang bulat.
“Gila bentuk penis kamu ko kayak si Rocco yang di film itu sih..?”
Hah..! ternyata nih cewek doyan juga nonton bokep, sampe kenal sama si Rocco segala.
“Udah deh Mas, jangan bengong gitu, biasa kan jaman sekarang cewek nonton blue film, kan emansipasi.” katanya sambil nyelonong masuk ke kamar mandi.
Neva langsung memasukkan kakinya ke dalam Bathtub yang sudah terisi setengah air itu. Badannya membungkuk untuk menyentuh air, mungkin untuk memastikan airnya cukup hangat untuk digunakan berendam. Posisinya yang membungkuk dengan kakinya yang jenjang putih itu membuat darah saya berdesir kuat. Jantung saya berdegup lebih keras dari biasanya, terus terang saya belum pernah melihat wanita secara nyata dalam keadaan setengah telanjang.
Secara refleks saya mengelus belahan pantatnya yang ditutupi genre hijau muda dengan tangan kanan saya. Karena yang kiri sedang memegang sabun, Neva mengambil tangan saya dan memindahkannya pada bagian perutnya yang tipis dan halus. Saya perlahan mengusap dengan lembut, posisi kami sama-sama menghadapi cermin yang ada di kamar mandi itu. Tangan kiri Neva ditarik ke belakang dan memeluk leher saya secara lembut. Selama lima menit pantat Neva bergesekan lembut dengan penis saya, kami berdansa lembut.
Cermin yang memantulkan citra saya san Neva membuat hasrat saya semakin menggebu. Saya membuang sabun dan memindahkan tangan kiri saya ke dadanya yang cukup besar itu. Perlahan saya mengusap pinggiran gunung kembarnya, dan jemari saya garuk lembut di bagian putingnya. Dari cermin saya melihat Neva tersenyum dan sedikit mendesah. Tangan kanan saya secara perlahan dan teratur turun ke belahan pahanya, naik lagi ke bukit merah muda yang masih ditutupi celana dalamnya. Saya usap bolak-balik, rasanya nyaman sekali memainkan tangan di luar celana dalam wanita.
Kemudian perlahan tangan Neva memindahkan tangan saya ke bagian dalam celananya yang mulai berlendir. Saya mengusap dengan teknik memutar ibu jari dan jari tengah, sementara jari manis saya menggaruk lembut bagian pinggir labia mayoranya. Sementara gerakan tangan saya berjalan, lidah saya secara perlahan menjilati bagian pinggir kupingnya. Ternyata teknik saya ini membuat Neva berteriak lembut, desahannya terasa meningkat.
Tidak berapa lama kemudian Neva berbalik dan berbisik, “Mas, saya pindah di ujung bathtub ini ya..?” katanya sambil secara lembut menarik celana dalamnya.
Saya terpana melihat vaginanya yang ditutupi rambut-rambut halus yang dicukur dengan rapih, merangsang sekali. Neva kemudian duduk dan sebelah kakinya diangkat ke atas membuat vaginanya terbelah mekar, memperlihatkan bagian labia-nya yang sudah sedikit basah.
“Mas.., jilatin memek saya ya..! Saya pengen banget nih..!” pintanya.
Tanpa diperintah dua kali saya berjongkok di bathtub dan kepala saya julurkan ke arah kemaluannya. Saya mulai dengan jilatan di paha dalam, kemudian secara pasti menuju belahan vaginanya. Saya berusaha untuk sabar, jangan sampai dia merasa terlalu cepat naik.
Setelah sepuluh menitan saya memainkan bagian luar kemaluannya, kedua tangan saya secara mantap memegang pahanya dengan cara melingkar agar dia tidak banyak bergerak. Akan saya buat Neva tidak dapat melupakan teknik oral ini. Saya menyusupkan kepala saya ke pahanya. Saya hisap berkali-kali sambil divariasikan dengan jilatan naik turun. Hal ini saya yakin membuat klitorisnya membesar dan dengan mudah akan saya gigit pelan. Ternyata usaha saya berhasil, Neva mulai menggelinjang dan tangannya secara keras menjambak rambut saya.
“Mas.., Neva enggak tahan nih, mo keluar..!” katanya.
Neva mengejang dan saya merasakan bibir saya sedikit terjepit. Bau harum lendir Neva menyusup ke hidung, saya tahu Neva orgasme hebat karena cukup lama Neva mengejang, sebelum akhirnya lemas dan tersandar di pinggir bathtub.
“Mas.., makasih banget ya, kamu hebat, Vena baru kali ini orgasme lama banget.”
“OK, makasih juga, saya juga seneng kok, cuma saya kayaknya musti swalayan nih, kalo kamu udah capek gini.” kata saya mencoba berkelakar.
Ternyata Vena langsung mendorong tubuh saya sehingga saya terduduk di atas closet duduk.
Vena tersenyum, “Sekarang giliran saya muasin kamu Mas..! Tunggu bentar ya Mas..!”
Vena mencuci sebentar kemaluannya dan mulai mendekati. Kakinya langsung mengangkang dan meluruskan arahnya pada penis saya. Secara perlahan dipegangnya penis saya yang berujung besar dan mulai sedikit memerah, lalu memasukkannya ke liang kenikmatannya yang masih sedikit berdenyut.
Neva ternyata tipe wanita kuat dalam seks, kepala penis saya secara perlahan masuk ke bagian kewanitaannya. Setelah seluruhnya masuk, Neva mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, persis seperti cewek naik kuda, gerakan ini membuat saya terasa melayang. Kemudian secara perlahan gerakannya berganti menjadi berputar dan naik turun. Gila pikir saya, ternyata Neva profesional sekali dalam urusan seks.
Saya mulai merasakan darah di kepala meningkat bersamaan dengan aliran darah menuju penis. Wah.., saya akan cepat keluar nih. Ketika saatnya akan mengalami orgasme, tiba-tiba Neva bangkit dari duduknya, otomatis penis saya terlepas dari liang hangat itu.
Saya keheranan, tapi Neva hanya tersenyum dan bilang, “Tenang Mas..!”
Kemudian dia duduk membelakangi saya dan mulai lagi dengan gerakan turun naik, hanya kali ini dalam hitungan 4 masuk semua dan hitungan 1 hanya sepertiganya.
Kemudian paha saya direnggangkan dan pahanya berada di dalam paha saya, tentu saja ini membuat penis saya semakin terjepit. Secara simultan Vena menaik-turunkan pantatnya. Sekitar 15 menit kemudian, Neva diam sejenak, keringat mulai mengucur dari badan saya dan badan Vena. Dalam posisi diam ternyata vagina Vena justru berdenyut semakin kencang dan rapat yang membuat saya mendesis-desis keenakan. Ternyata Neva punya keahlian juga dalam teknik ‘empot ayam’.
“Nev, saya mo keluar nih..!” kata saya.
“Bentar ya Mas.., tahan dulu..!”
Saya sekuat tenaga menahan dengan menarik napas dalam-dalam. Neva menghentikan denyutannya, ini membuat penis saya sedikit tenang.
Neva lalu bangkit dan bilang, “Mas.., saya kulum ya punyamu biar keluarnya lebih enak..?”
Saya hanya dapat pasrah, habis apa pun yang Vena perbuat untuk penis saya benar-benar membuat saya mati keenakan.
Vena mengulum penis dengan ganas dan menggarukkan giginya di ujung penis saya. Saya sudah tidak kuat lagi dan hampir keluar. Tiba-tiba Vena menghentikan oralnya dan menekan penis saya kuat-kuat dengan genggamannya. Orgasme saya langsung hilang.
“Ven, kamu gila ya..!” teria saya, “Kan sakit..!”
“Tenang Mas, mau yang enak banget kan..?” katanya tenang.
Kemudian dilepaskan genggamannya, dan kembali memasukkan penis saya ke liang surgawinya. Kali ini dengan gerakan yang sangat liar secara kasar Neva menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Sepuluh menit kemudian tanpa dapat ditahan, saya keluar dan menyemburkan sperma saya ke dalam rahimnya dengan kuat. Gila baru kali ini saya dapat orgasme lebih dari 3 kali semprotan dalam waktu yang sangat lama. Rasanya semua sperma ini keluar dan meluluh lantakan tulang-tulang, mungkin ini akumulasi orgasme saya yang tadi tidak jadi keluar. Tidak lama kemudian Neva mengerang dalam dan mendapatkan orgasmenya yang kedua dalam waktu bersamaan dengan saya. Saya merasa lemas, untuk bangun dari duduk saja rasanya saya tidak kuat, tapi saya paksakan juga.
Kami mandi bersama dan saling membilas sambil bibir saya dan bibirnya saling berpagutan.
“Thank’s ya Nev, kamu hebat banget, saya jadi pengen lagi.”
Neva tersenyum nakal dan mencium penis saya dengan lembut. Kami keluar dari kamar mandi dan tidak terasa sudah pukul 11 malam. Saya langsung pamit, tapi Vena bilang ingin tidur malam ini dengan saya.
“Gimana nanti dengan pembantu kamu kalo tahu ada cowok tidur di sini..?” tanya saya was-was.
“Jangan khawatir, pembantu saya enggak akan berani masuk kamar, lagian kalo pagi-pagi juga si Bibi ke pasar dan baru pulang jam 11 siang.” jelasnya masih tetap berharap saya mau tinggal semalam dengannya.
Akhirnya kami tidur bersama, dan malamnya kami melakukan beberapa kali lagi making love. Saya puas, ternyata ada wanita cantik yang mampu mengimbangi hasrat seks saya yang cukup besar ini.
Label: cerita dewasa, cerita dewasa 2011, cerita hot, cerita ngentot, cerita porno, cerita seks, cerita seks 2011, cerita seks sedarah, cerita sex


@



0 komentar:

Posting Komentar - Kembali ke Konten

Thank's To The Night