Terseret birahi

Namanya Gadis Pramestika.

Dia duduk persis di depanku. Jadi segala kegiatannya terlihat jelas olehku. Dia cantik. Muda. Semampai. Rambut hitam sebahu. Postur yang ideal untuk menjadi pramugari atau model atau SPG pameran mobil. Buah dadanya sedang. Nggak tau berapa ukurannya. Kulitnya khas wanita Indonesia. Sawo matang. Bibirnya tipis. Berhidung mancung. Dengan mata yang bagus. Alhasil kehadirannya mampu mempesona semua cowok-cowok di kantor. Tak terkecuali aku

Maklum, dari 25 orang karyawan, pegawai ceweknya cuma ada 4. Tiga orang cewek lainnya itu udah selevel ibu-ibu. Sama sekali nggak masuk hitungan cewek cakep. Orang umurnya rata-rata udah diatas 35 tahun.

Sudah 4 bulan dia bekerja dikantorku. Tadinya bekerja sebagai account officer sebuah bank BUMN di daerah Harmoni. Karena alasan jauh dari rumah dan menuruti anjuran suami – dia akhirnya pindah kerja. Sejak itu dia mengisi posisi bagian administrasi yang sempat vacant dikantorku. Satu departemen denganku. Sejak itu pula wajah cantik dan body sintalnya selalu mengisi ruang-ruang erotis yang memenuhi imajinasi kotorku.

Dengan semua orang dia ramah. Murah senyum. Dan suka berbagi makanan kecil. Maka tak ayal semakin bertambahlah nilai plus dia di mata kita-kita; para jahanam penjahat kelamin kelas kantoran hahaha…

Karena satu departemen, kita cukup dekat. Bukan hanya posisi meja kerja kami, namun secara personal juga lebih dekat di banding dengan teman-teman yang lain departemen. Karena letak meja kerja mereka dengan kita terpisah oleh dinding penyekat setinggi dada. Otomatis sehari-hari interaksi kita berdua lebih banyak.

Kita sering makan siang bareng dengan teman-teman. Sering pula dia mengajak aku menemaninya makan pagi di kantin bawah kantor. Dari situ hubungan kita menjadi lebih dekat. Seminggu, kira-kira 2-3 kali kita sarapan bareng. Obrolan pun mulai terasa hangat. Dari yang tadinya basa-basi akhirnya berubah menjadi akrab dan lebih santai.

Akupun mulai berani bercanda dengannya. Dari joke-joke kecil sampai candaan yang berat. Dia juga mulai berani main ledek-ledekan denganku. Yang sering membuat iri cowok-cowok dikantorku. Kadang kita kompak tertawa lepas saat ada cerita lucu yang membuat kita terpingkal-pingkal. Kalo sudah gitu, biasanya Pak Wiryo – atasanku yang mendesis sambil menempelkan ujung telunjuknya di mulut. Lalu kita sama-sama tertunduk menatap layar computer sambil saling melirik geli.

Suatu hari tanpa sengaja aku mendengar salah satu rahasia dalam hidupnya. Rahasia yang seharusnya dia simpan sendiri saja. Tanpa perlu ada orang di luar lingkungan rumah tangganya yang tau.

Tadinya pas sarapan bareng, aku iseng bertanya tentang kegiatannya selepas jam pulang kantor. Namanya juga ngobrol. Jadi, aku tak terlalu serius menanyakannya. Eh, tanpa terasa obrolan itu mengalir sampai kemana-mana. Akhirnya dia bercerita tentang kondisi rumah tangganya. Tentang suaminya yang sering pulang tengah malam. Tentang rasa kesepiannya tinggal sendirian di rumah. Tentang ini dan itu sampai… tentang suaminya yang sampai sekarang belum mampu membuatnya hamil. Padahal mereka sudah hampir 3 tahun menikah. Dan dia sangat merindukan kehadiran anak.

Saat itu aku cuma diam mendengarkan. Mencoba jadi pendengar yang baik. Membuatku menjadi bingung dan nggak enak. Bingung karena kaget dia harus bercerita sampai sejauh itu. Ngga enak karena membuat dia jadi menceritakan hal yang seharusnya tidak harus dia sampaikan.

Akhirnya kita menutup sesi makan pagi bersama itu dalam diam. Sepanjang hari itu aku berusaha menghibur hatinya yang kelihatan gundah. Risau tepatnya. Dan sepertinya dia memang terlatih untuk bersikap dewasa. Dia minta agar aku tidak menceritakan hal ini kepada teman-teman yang lain. Ini seperti amanat yang maha penting. Dan aku bangga bisa menjaga amanatnya. Bangga bahwa ternyata aku dipercaya olehnya untuk menjadi orang yang dipercayainya.

Kami pun semakin dekat. Kalau lagi bĂȘte, aku sering curhat sama dia. Waktunya pas jam makan siang. Atau sore ketika hendak pulang. Akhirnya kita berdua seperti dua orang sahabat. Interaksi kita pun semakin intim.

Aku mulai berani menggandeng tangannya saat menyeberang jalan. Atau menepuk bahunya saat dia lagi melamun di depan computer. Dia pun tak sungkan lagi mencubitku atau meninju lenganku kalau aku menggodanya. Kita berdua seperti dua orang teman yang sudah lama saling kenal.

Kisahku berikut ini membawa perubahan dalam hidupku selanjutnya. Dimana untuk pertama kalinya dalam hidup aku bercinta dengan istri orang!!

***

Suatu hari kantorku ngadain acara outing. Semacam acara piknik atau tamasya ke luar kota. Acara ini memang rutin diadakan setiap tahun. Tujuannya untuk sekedar refreshing dan ajang mengakrabkan diri antara pimpinan dan karyawan. Tahun lalu acaranya diadakan di daerah Lembang Bandung. Tahun ini, sesuai kesepakatan bersama, akan diadakan di Cicurug Sukabumi.indobokepz.com

Oleh teman-teman aku ditunjuk menjadi panitia bagian dokumentasi – sehubungan dengan hobiku memotret dan video editing. Sedangkan Gadis ditunjuk sebagai anggota panitia konsumsi.

Pada hari keberangkatan semua karyawan sudah tiba di kantor pagi-pagi sekali. Ada 2 buah bis besar mewah yang sudah stand by di halaman kantor. Bisnya lumayan bagus. Tempat duduknya 2-2. Full AC dan ada toiletnya. Dilengkapi fasilitas karaoke pula. Dalam hati aku memuji hasil kerja panitia bagian transportasi. Berharap aku bisa duduk di samping Gadis. Hmm, tentu perjalanan akan terasa menyenangkan.

Aku celingukan mencari Gadis. Rupanya dia belum datang. Sambil menunggu bis diberangkatkan, aku menyalakan sebatang rokok. Sengaja aku belum memasuki bis. Ntar kalo si Gadis sudah mulai naik, aku akan menyusulnya dari belakang.

Teman-teman panitia sudah menyuruh aku untuk naik. Namun aku bilang masih ingin menghabiskan sebatang rokok.
Beberapa menit kemudian dari kejauhan tampak mobil sedan kecil si Gadis memasuki tempat parkir. Aku bergegas mematikan rokokku. Pura-pura memeriksa tas kamera di depan pintu masuk bis. Gadis berlari kecil menuju bis. Wow, dia kelihatan cantik sekali dengan kacamata hitam dan topi putih. Celana jins ketat dan sepatu sport pink menghiasi penampilannya. Kereen abis. Dan itu, kaos polo ketat semakin menonjolkan bentuk payudaranya. Yummy. Beberapa siulan nakal dari dalam bis mengiringi kedatangan cewek tercantik di kantor ini.indobokepz.com
Sebelum naik dia sempat tersenyum kepadaku.indobokepz.com

“Ngga telat kan, Gus?”, tanya dia.indobokepz.com
“Oh, enggak. Cuma nungguin satu orang panitia yang ngurusin makan aja kok!” Jawabku sambil tersenyum lebar. Dia merengut tersenyum masam. Merasa tersindir.
“Sori yaa, aku tadi nganter Mas Ari dulu ke bandara. Dia ke Padang pagi ini...”
“Oh gitu. Santai aja, Dis. Masih jam 6 seperempat kok. Jadwal bis berangkat kan jam setengah 7. Yuk naik! Temen-temen dah pada ribut tuh.”indobokepz.com
“Okeee. Nih, aku bawain sandwich isi keju buat sarapan.”
“Waah tengkyu banget ya. Jadi terharu nih. Hehehe... “ ujarku sambil mengikuti langkahnya menaiki bis. Dia tersenyum. Amboi, andaikan aku bisa memiliki senyum itu setiap pagi, pikirku. Aku menghela napas kecil.


Gadis menyapa teman-teman yang udah duluan duduk. Suasana jadi hangat. Ferdi dan Iwan buru-buru mempersilahkan Gadis agar duduk disebelahnya. Gadis hanya tersenyum berterimakasih. Dia menoleh ke arahku. Aku langsung menunjuk 2 kursi di deretan belakang yang masih kosong. Tepat didepan toilet. Syukurlah, kataku dalam hati. Doaku terkabul.


Tak lama kemudian bis mulai bergerak meninggalkan kantor. Para bos dan manager menempati bis pertama. Sedangkan bis kedua ditempati kami-kami, para staf karyawan.indobokepz.com
Sepanjang perjalanan silih berganti teman-teman berkaraoke ria. Sedangkan aku dan Gadis menjadi penonton yang baik. Kami asyik ngobrolin tentang acara nanti.indobokepz.com


Setelah beberapa waktu, Gadis tiba-tiba merebahkan kepalanya di sandaran kursi. Tampaknya dia masih mengantuk. Acara mengantar suaminya ke bandara rupanya yang membuat dia harus bangun jam 3 pagi. Dia menutupi mulutnya. Menguap panjang. Hawa sejuk didalam bis ditambah kurang tidur membuatnya ingin terlelap meski suara musik dan lagu terus berkumandang di speaker bis.indobokepz.com


“Gus, gue ngantuk berat nih. Gue tidur ya?”
“Oh, silahkan aja Dis. Emang bisa tidur sambil denger berisik gini?”
“Yaa mo gimana lagi. Aku udah ngga kuat...”
“Kasian. Oke deh. Sini, tas lu biar gue yang bawain.”
“Thanks, Gus. Ntar kalo mo nyampe bangunin yaa...”
“Beresss..” kataku.


Gadis menyerahkan tas katun besar yang dibawanya kepadaku. Aku menempatkan tas itu kedalam bagasi di atas kursi kami. Setelah itu, dia menyetel posisi sandaran punggung kursinya agar rebah ke belakang. Karenanya, kaosnya jadi tertarik naik ke atas. Menampakkan perut bagian bawahnya yang bersih. Aku melirik ke situ.indobokepz.com
Glek! Gadis memakai jins sejenis low rise (jins yang potongan pinggulnya rendah) sehingga perut bagian bawahnya terlihat lebih. Tapi Gadis sepertinya tidak menyadari keadaan itu. Dan ini menguntungkan aku. Aww, gila man!indobokepz.com


Bagian bawah pusarnya dihiasi bulu-bulu halus yang semakin banyak ke arah bawah. Terus meluncur sampai atas celana dalam yang dia pakai. Bagian atas celana dalamnya yang berwarna putih berenda pun akhirnya mengintip. Melihat pemandangan itu aku tidak menyia-nyiakannya. Mataku terus menatapinya dengan diiringi degup jantung yang tiba-tiba makin cepat.


Teman-teman masih asyik bernyanyi. Mereka tidak memperhatikan kami. Aku menoleh ke arah Gadis. Dia begitu cepat tertidur dengan topi menutupi wajahnya. Dua kancing teratas kaosnya sudah lepas. Aku memundurkan badan. Mencoba mencari celah dari situ. Buah dadanya putih membusung. Belahannya sedikit terlihat. Sungguh seksi. Namun tidak banyak yang bisa kuintip.


Lalu aku kembali memusatkan perhatian pada bagian perut yang terbuka tadi. Sungguh ingin rasanya menarik jins itu untuk terus ke bawah. Perutnya bergerak perlahan seiring tarikan napasnya. Dia sudah benar-benar terlelap sekarang.


Bulu-bulu halus itu, oh! Membuatku tiba-tiba jadi pusing dilanda hasrat yang meletup-letup. Jantungku berdebar-debar. Tidak mengira akan mendapat rejeki nomplok hari ini.indobokepz.com


Aku mengamati lengan dan tangannya. Sama. Ditumbuhi banyak bulu halus. Membuatku mendadak terangsang hebat. Jemarinya terkulai menghadap ke atas.
Aku memberanikan diri menyentuh telapak tangannya perlahan. Sangat perlahan. Goncangan bis membuat gerakanku tak dirasakan Gadis. Dia sudah di alam mimpi. Kusentuh dengan selembut mungkin. Meski aku sudah pernah menggandengnya. Namun yang sekarang ini berbeda. Karena kusentuh tanpa sepengetahuan pemiliknya.


Kugenggamkan jari-jari tanganku pada jemarinya. Lembut. Syahdu. Gadis tidak memperlihatkan reaksi apapun. Aku pun semakin berani. Ujung-ujung jariku mengelus lembut jari-jarinya. Dia masih tak bergerak. Aman. Aku meneruskan aksiku. Terasa hangat sekali. Selama beberapa saat aku menikmati ‘genggaman’ mesra tersebut. Sambil mataku terus menikmati pemandangan bulu-bulu halus di perut bawah Gadis. Pikiranku bergelora. Berkecamuk dengan bayangan erotis tubuh Gadis. Tak kupedulikan lagi tentang statusnya. Yang ada hanya ambisi untuk menikmati bisikan-bisikan birahi yang menari-nari di otakku. Aku pun terbuai. Terbuai oleh dorongan seksual yang menghebat. Ambisiku untuk dapat memiliki tubuh Gadis sungguh tak terelakkan!


Kepala Gadis terkulai ke kanan. Menghadap kaca bis. Aku yang duduk disebelah kirinya merasa diuntungkan dengan keadaan ini. Kembali aku melongokkan kepalaku ke arah dua kancing kaos yang terbuka tadi. Kali ini belahan payudaranya semakin jelas terlihat. Aku menelan ludah. Sementara genggaman tanganku masih berada di tangan kiri Gadis. Dada itu bergerak lembut seiring napasnya. Ingin rasanya meremas payudara yang menggemaskan itu. Menyentuh putingnya, kemudian menghisap dan menggigit-gigitnya pelan. Ah, birahiku sudah ke ubun-ubun rupanya!


Alhasil, hanya sejauh itulah yang bisa kulakukan sampai akhirnya kami tiba di lokasi wisata outbound. Aku membangunkan Gadis dari tidurnya yang nyenyak seperti bayi. Ada hasrat yang tertahan didadaku. Tapi biarlah! Sudah bisa melihat bagian bawah perutnya saja aku bersyukur. Aku tidak tahu bahwa setelah ini – hanya berselang dua hari, secara tak direncana aku berhasil mewujudkan impian nakalku.

Outing berlangsung dengan khidmat dan khusyu (…jadi kayak pengajian ). Acara demi acara berlangsung. Semua orang tampak antusias menikmatinya. Tak terkecuali aku dan Gadis.

Aku sibuk menjalankan tugasku sebagai fotografer amatiran. Setiap moment tak lepas dari jepretan kameraku. Sampai tiba waktunya kami beristirahat menjelang sore untuk coffee break dan menjalankan sholat Isya. Aku mendapat kamar yang paling ujung. Lumayan jauh. Sedangkan Gadis di ujung yang satunya. Satu kamar diisi 2 orang. Aku sekamar dengan Pak Iwan, karyawan bagian Purchasing. Sedangkan Gadis sekamar dengan Bu Lusi, sekretaris big boss.

Bu Lusi ini orangnya cantik dan rame. Agak genit tapi baik hati. Meski usianya sudah hampir 40 tahun, tapi soal penampilan dia nggak mau kalah sama cewek-cewek gaul jaman sekarang. Dia memliki tubuh yang semlohai alias montok. Sudah bukan rahasia di kantor kalau dia ada main sama bos. Tapi karena kebaikan hatinyalah – gossip tersebut seakan tertiup angin.

Dari Gadis aku mendengar kabar bahwa tadi sekitar jam 2an Bu Lusi keluar sama boss naik mobil berdua. Katanya sih mau ngurus administrasi. Aku menebak-nebak kemana mereka pergi. Tapi ah, sudahlah. Itu bukan urusanku. Urusanku sekarang adalah jadi fotografer yang baik sambil diam-diam menjepret Gadis dengan kamera Nikonku. Ceritanya jadi paparazzi.

Sudah lebih dari 20an foto Gadis yang kuambil tanpa sepengetahuannya. Lumayan, bisa jadi wallpaper di laptop hehehe…
Saat yang lain asyik ngopi sambil beristirahat di pendopo, diam-diam aku menyelinap menuju kamar Gadis. Aku lihat dia tidak ada di antara kerumunan teman-teman. Kemana ya, pikirku.

Pintu kamarnya tidak tertutup rapat, namun aku tetap mengetuk pelan. Dari celah pintu kulihat Gadis terbaring di kasur dengan kaki menjuntai di lantai. Masih dengan pakaian olahraga dan sepatu kets. Sebelah lengannya menutupi matanya. Butir-butir keringat tampak di wajahnya. Dada itu… aahh

“Permisi…,” kataku sambil menguak pintu.

“Dis, kamu kenapa? Sakit? “

Gadis menggerakkan lengan yang menutupi matanya. Membuka matanya saat melihatku sudah berdiri membungkuk disampingnya.

“Kenapa?” ulangku lembut.

Dia menghela napas beberapa kali sebelum menjawab.
“Nggak tau nih Gus. Tiba-tiba kepalaku pusing banget dan mataku berkunang-kunang… Tadi sempat jatuh sempoyongan di kamar mandi…” ujarnya lemah.

Aku memberanikan diri menyentuh keningnya. Panas sekali.

Singkat cerita, setelah itu kondisi Gadis memburuk. Atas saran teman-teman dan bos, Gadis sebaiknya dibawa ke dokter atau klinik terdekat. Bos menyuruhku mengantar Gadis dengan salah satu mobil kantor yang standby disini.

Dengan dibantu berjalan Gadis kupapah masuk ke ke dalam mobil. Jaket tebal menyelimuti tubuhnya yang panas tinggi. Terus terang aku agak kuatir dengan kondisinya. Sandaran kursi yang diduduki Gadis agak aku rebahkan. Supaya dia nyaman. Mobil kujalankan dengan kecepatan sedang. Menuruni jalanan beraspal areal perbukitan yang menurun dan berliku. Kabut tipis menemani selama perjalanan. Malam mulai menyambut.

Selama perjalanan beberapa kali kudengar Gadis mengerang pelan. Lalu terdiam. Lalu mengerang lagi. Kondisi jalanan yang gelap membuat mataku lebih waspada. Laju mobil mulai melambat. Sudah setengah jam lamanya dari lokasi outing. Sekarang sudah mulai memasuki areal perkebunan pohon jati. Suasananya gelap. Maklum, kanan kiriku berdiri pohon-pohon jati setinggi kira-kira 5-6 meter lebih. Suasananya mirip hutan. Namun yang membedakannya adalah adanya jalan aspal yang sedang kulalui ini.

Dari tadi tidak ada kendaraan yang berpapasan. Aku merasa sendirian di tengah areal hutan jati ini. Agak ngeri sih. Takut kejadian kalau ban kempes atau bocor pas di tengah-tengah hutan ini. Yang membuatku semakin under pressure adalah adanya sesosok wanita yang kukagumi kecantikannya yang sekarang sedang terbaring lemah disampingku. Padahal untuk menuju perkampungan terdekat masih butuh waktu kira-kira setengah jam.

Hujan deras datang tiba-tiba. Seperti air ditumpahkan dari langit. Petir yang bergemuruh saling bersahutan. Jalanan jadi basah. Deras sekali. Aku melirik ke Gadis. Dia tertidur nyenyak. Kepalanya terkulai ke samping.Tapi tidak lagi mengerang. Lalu aku menyalakan wiper kaca mobil.

Tiba-tiba laju mobil melambat dan semakin melambat. Aku melirik panel bahan bakar. Gawat! Bensinnya habis. Aduh, mampus dah. Aku mengutuk dalam hati mas Bobi. Bisa-bisanya dia lupa isi bensin. Lengkap sudah. Mobil pun akhirnya benar-benar terhenti setelah tersendat-sendat karena terus kupaksa. Kampret!

Inilah nasibku. Terdampar di hutan gelap di tengah hujan deras yang tanpa ampun terus mengucur membawa orang yang lagi sakit. Mana hawanya dingin lagi. Aku mendengus kesal. Aku mendelosor bersandar kursi. Tanganku mencari-cari hape di saku celana. Deg! Aku baru ingat kalau hapeku aku simpan di jaket. Sedangkan jaketnya aku tinggal di kamar. Aku menepuk jidat. Aku mencoba lagi mencari hape di saku jaket Gadis. Sakunya kosong. Hanya ada saputangan cewek.

***

Aku menoleh ke Gadis. Kasihan, saat sakit begini jauh dari keluarga. Aku menyentuh keningnya. Panasnya sudah turun. Tapi kenapa tidak bergerak? Jangan-jangan dia pingsan?

Kuguncang-guncang tubuhnya. Tidak ada reaksi. Kupegang pergelangan tangannya. Denyut nadinya melemah. Wah, benar. Dia pingsan.

Hawa semakin dingin menusuk. Maklum, masih didaerah pegunungan. Aku panik. Aku menggigil. Menoleh kearah luar. Masih tidak ada apapun di sana. Malam pekat. Yang kukuatirkan adalah kondisi Gadis. Gadis cantik idolaku ini sedang terbaring tak berdaya. Panas tubuhnya menurun drastis. Hawa super dingin ini membuatnya kehilangan panas tubuh dengan cepat.

Dengan cepat aku meraih tubuh Gadis. Dia kutarik sambil kupeluk kedekatkan ketubuhku. Sekarang aku memeluknya. Dengan cepat kuturunkan zipper jaketnya. Kulepas dari tubuhnya. Kurapatkan tubuhnya yang masih memakai kaos ketubuhku. Kepalaku kutempelkan ke keningnya. Kakiku melingkari pinggul Gadis. Lalu diam sesaat.

Pelan-pelan kuciumi rambut Gadis di hidungku. Harumnya membuatku ‘naik’. Kuusap-usap rambut dikeningnya dengan hidungku. Tanganku kananku menggosok-gosok punggungnya. Dadaku terhimpit oleh payudaranya. Ugh, membuatku horny. Kucium-cium wajahnya dengan hidungku. Matanya yang terpejam, pipinya, alisnya dan… bibirnya. Gadis masih diam tak bergerak. Aku semakin liar.

Kukecup bibirnya berulang-ulang. Kujepit bibr sensual itu pelan dengan bibirku. Menikmati apa yang selama ini aku khayalkan. Mengulum bibirnya. Menguak mulutnya dengan lidahku. Menjilat. Menggigit lidahnya. Menyapu mulutnya. Membelit. Menghisap apa yang bisa kuhisap.

Hawa semakin dingin.

Kecupan dan ciumanku merambat turun kelehernya yang putih. Gemas. Dari belakang telinga aku mendengus-dengus. Hawa nafsuku bagaikan listrik bervoltase tinggi.

Setelah Gadis kurebahkan, kaosnya kulepaskan. Lolos melalui atas kepalanya. Payudara indah itu terpampang indah sekarang. Pelan kulepaskan pengikat tali behanya. Sekarang keindahannya sempurna. Aku menatapnya sejenak. Mengagumi benda indah yang satu itu.

Kuusap pelan permukaannya. Puting kecil dengan areola yang tidak terlalu lebar. Putih kecoklatan. Sempurna sekali. Tanganku terus bergerak menjamahnya. Berputar di kedua bukit padat kenyal itu.

Lidahku turut serta bermain. Mengecupi payudara indahnya. Bertemu putingnya, ku jepit lembut dengan bibirku. Aah, dahsyat sekali birahi ini. Kuremas dengan gemas. Gemas sekali sampai meninggalkan rona memerah bekas remasan tanganku. Aku benar-benar terseret birahi…

***

Malam semakin larut. Selarut aku menikmati dosa ini. Membuaiku. Menangkapku tak berdaya dalam bisikan nafsu.
Aku sudah melepaskan pakaianku. Bugil total. Kulemparkan jinsku beserta t shirt dan celana dalamku ke jok belakang. Aku semakin tak peduli. Perlahan celana olahraga Gadis kulepaskan…


@



0 komentar:

Posting Komentar - Kembali ke Konten

Terseret birahi