Pengalaman Pesantren Kilat

“Bulan ramadhan tahun 2008 telah datang”, pikirku. Aku kala itu masih menjadi salah satu ketua organisasi keagamaan di salah satu smpn di jogja, kata kanlah SMPN ** yk, tanggung jawabku sebagai ketua harus menjalankan kegiatan keagamaan pada bulan Ramadhan, tetapi disitulah aku menjadi punya banyak kesempatan untuk berdekatan dengan salah satu jibaber cantik, jilbaber ini adalah seorang sekertaris di organisasi keagamaan. Jilbaber ini bernama Lendy.

Singkat cerita, pada suatu hari aku dan teman-teman mengajukan proposal untuk mendapatkan persetujuan agar kami sanggup menggunakan waktu libur kami dengan mengikuti pondok pesantren kilat, ternyata proposal yang aku buat di setujui oleh kepala sekolah dan guru agama.

Tanggal 25 desember 2008, kami bersiap untuk pergi ke salah satu pondok pesantren di daerah magelang, kami yang sudah menyiapkan bus untuk keberangkatan langsung saja menuju bus,sebelum keberangkatan aku memimpin untuk berdo’a bersama agar selamat hingga tujuan.Pada waktu berebut kursi dan masuk bus. Aku melihat ada seorang jilbaber cantik dan manis yang menggunakan baju ketat dan rok panjang ketat sehingga liukan pantatnya tertampak jelas, aku yang sudah tidak kuat melihat pantat yang seolah lembut dan kenyal itu, langsung menempelkan tangan kananku dan sedikit mengelus juga meremas lembut pantatnya, yang paling membuatku heran adalah jilbaber ini seolah tak merasakan remasanku ke pantatnya, tak aku sangka lagi, pantat jilbaber yang aku gunakan untuk mainan tadi adalah pantat Lendy, jilbaber yang manis dan cantik.

Di jalan bus yang aku tumpangi mengalami kerusakan mesin, terpaksa kami harus berganti bus, sopir bus itu turun dan melihat dimana kerusakannya, teman-teman yang kepanasan keluar dari bus untuk mencari udara segar sejenak. Lendy yang juga kepanasan keluar, aku yang berdiri di pintu keluar mendapatkan kesempatan menyentuh pantatnya lagi, langsung saja tangan yang sudah ketagihan ini menempel pada pantat jilbaber cantik ini. Lagi-lagi jilbaber ini tidak merespon.

Sekitar 5 menit kami menunggu, akhirnya bus yang kami tunggu datang dan teman-teman kembali berebut masuk bus. Aku yang sudah ketagihan ingin agar mendapatkan yang lebih dari pantat jilbaber. Jadi saat berebutan aku menaruh tangan kananku kepayudara Lendy. Ternyata tak seperti harapanku, Lendy jilbaber cantik ini merasakan dan merespon dengan melihat ke belakang. Tetapi yang menjadi keherananku adalah jilbaber ini tidak marah tetapi senyum dan membiarkan aku tetap meremas payu daranya. Sekitar 5 menit aku meremas payu daranya, dia berkata, ”udah jangan lama-lama, nggak enak kalo dilihat temen-temen.” Kemudian aku melepas tanganku dari payu dara jilbaber ini.

Sekitar 10 menit perjalanan, akhirnya sampai di pondok yang kami tuju. Setelah kami keluar bus, panitia menyiapkan tempat untuk penyambutan, kami kemudian menuju tempat penyambutannya.

Singkat cerita setelah 2 hari kami di pondok dan menjalankan kegiatan pondok bersama. Pada malam hari sekitar pukul 21.00 wib kami di minta berkumpul untuk menyampaikan keluh kesah atau kritik dan saran. Aku yang paling berani dan paling di percaya untuk berbicara maju dan menyampaikan beberapa pujian dan beberapa kritikan. Lendy yang juga melihat kau menyampaikan kritik dan saranku kemudian tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Serelah selesai aku menuju ke samping Lendy dan aku mencoba berbicara kepadanya. ”Len,nanti aku boleh ngomong sama kamu nggak? bentar aja kok, boleh ya?” pintaku. "Ya deh, dimana?" jawab Lendy sambil menganggukan kepalanya.

Sekitar pukul 22.00 wib aku dan jilbaber itu menuju ke kamar mandi yang berada di samping masjid. Kami masuk dan menutup pintu dengan penerangan yang minim aku mencoba membuka pembicaraan kami.

”Len, maaf kemarin aku meremas payu daramu waktu kita berebut tempat. Kamu masih ingat kan? kamu marah sama aku nggak? kalo iya, maaf banget ya?, pintaku.
”nggak apa-apa kok, aku nggak marah, mungkin kamu nggak sengaja,” ucapnya
”sebenarnya, aku sengaja lakuin itu, soalnya aku dah nggak kuat kalo ada cewek secantik kamu ada di depanku dengan baju yang ketat gitu, maaf banget ya?,” jelasku.
”ooooh, jadi kamu sengaja? tapi nggak apa-apa deh, toh aku jug anggak kenapa-kenapa,” ucap jilbaber ini dengan senyuman manisnya,

Sekitar beberapa menit kami berbicara, aku menyatakan kalo aku cinta sama, ”Len, maaf banget. Aku mau ngomong kalo aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacarku nggak?” ucapku. ”Boleh kok,aku juga suka kamu.” jawab jilbaber ini.

Karna sudah malam, jilbaber ini mulai kecapekan dan ingin tidur, jilbaber ini berkata, ”aku ngantuk nih, besok aja lagi ya?” pintanya. ”ya deh, tapi sebelum pergi aku boleh cium kamu nggak? merayakan jadian kita gitu? boleh ya?” pintaku. ”ya deh, tapi sekali aja, ya udah mana cepet?” jawab jilbaber ini dengan senyum gairah. ”Nih” ucapku dengan meyerbu mulut imuthnya.

”Wah nakal juga kamu tuh, kerap gini ya?hayo ngaku.” ucapnya dengan ketawa kecil.
”nggak kok, baru sekali ini, tapi aku kerap lihat di film-film, hehehe,” jawabku.

Tanganku yang mulai nakal meraba payu dara jilbaber ini dengan masuk ke dalam baju muslimnya. Jilbaber ini mulai kegirangan dengan merintih kecil, ”uh..uh..uh..”Dengan handal aku mencoba melepas baju yang di kenakan dan juga rok jilbaber ini. Akhirnya hanya tinggal jilbabnya saja yang menutupi tubuhnya. Aku mencoba untuk memasukkan tangan ke dalam vagina jilbaber dan berhasil, setelah aku menemukan klitoris jilbaber ini aku mulai mencubit dan mengelus-elusnya. ”uuuh...uuuh..” rintihnya. Tanpa belas kasihan lagi, aku tetap menciumi mulut jilbaber ini dengan bertubi-tubi. Setelah vagina jilbaber ini basah karna pejuh, aku minta dia untuk jongkok di depanku dan aku minta jilbaber ini meraba testisku, setelah dia buka celanaku, jilbaber ini mulai nekat dengan menjilat testisku. Aku kemudian memaju-mudurkan pantatku agar testisku mendapatkan kocokan di dalam mulutnya. Sekitar 30 menitan aku mengocokan testisku keluarlah cairan hangat dan lengket dari testisku. Jilbaber langsung saja membuang atau meludahkan spermaku dari mulutnya. Dia pun tersenyum ke arahku dengan berkata, ”dah ya?sampe sini aja, aku capek nih, klimaknya lama banget sih? kerap latihannya?”

”nggak juga” jawabku sambil merapikan baju dan celana.

Akhirnya selesai juga pertandingan mendadakku, dengan waktu yang cukup lama yaitu 30 menit. Setelah kami membenarkan baju dan celana kami, kami keluar dari kamar mandi dan kembali ke pondok masing-masing. Tetapi setelah itu kami selalu melakukannya setiap malam minggu dan waktu luang di sekolah.


@



0 komentar:

Posting Komentar - Kembali ke Konten

Pengalaman Pesantren Kilat