Ken-Windy, The Sister

Cahaya matahari yang menyilaukan menyapu wajahku saat aku melangkahkan kaki keluar dari dalam kapal pesiar. Aku sampai di Bali setelah perjalanan yang melelahkan menggunakan kapal dari Jakarta. Kebetulan seluruh teman-temanku sibuk dengan liburan masing-masing karena kuliah sedang diliburkan, jadi aku juga harus mempunyai liburanku sendiri. Velita pergi ke Paris untuk mengunjungi kakek dan neneknya. Catty berlibur ke Roma bersama keluarganya, dan Tifanny tetap bekerja seperti biasa di Bandung. Tentu saja aku merindukan mereka semua dan tetap berkirim pesan, tapi aku juga harus rileks dan menikmati liburanku di pulau Dewata ini.

Aku menatap ke samping, laut. Air yang jernih, biru, dan berombak dengan pasir-pasir yang memantulkan cahaya mentari yang membuatku harus menyipitkan mata untuk bisa menatap karang penuh warna-warni yang ada di bawah laut juga. Dengan ikan-ikan beragam warna yang berenang dengan pelan, menikmati alam. Namun aku segera tersadar dan menyeret koper hitam-ku.

Dan beberapa langkah setelahnya, di pelabuhan ini, aku melihat sosok yang sudah sangat kukenal. Seorang wanita cantik bertubuh 2 cm lebih tinggi dariku. Dalam balutan pakaian khas Bali, serta topi jerami yang cukup lebar untuk melindungi kepalanya dari sengatan cahaya yang bersuhu tinggi. Walaupun ia mengenakan kacamata hitam, aku masih bisa melihat kilauan mata yang terpancar dari wajahnya yang berseri-seri dalam menyambutku. Bibirnya yang tipis terangkat, membentuk sebuah senyuman yang sangat kurindukan. Dan kurasa senyuman itu juga merupakan luapan kerinduannya padaku.

Aku berlari. Merasakan angin bertiup melewati tubuhku, menerobos di balik kemeja tipis dan celana pendekku, berlari ke arah perempuan itu. Senyumannya semakin melebar, hingga memperlihatkan sederetan giginya yang putih bersih. Ia melepaskan kacamata hitamnya, memperlihatkan bola mata cokelatnya yang memesona dan merentangkan tangannya, bersiap memelukku.

Aku berhenti tepat di depannya, melepas koperku dan memeluknya dengan erat tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia memelukku dengan begitu erat hingga dadaku terasa sesak, namun aku tersenyum saat ia melepaskan pelukannya dan menatap wajahku. 2 tahun kami tidak bertemu, dan tidak ada yang berubah darinya.

"Ken."

Terasa sengatan listrik yang menggelora ke seluruh tubuhku saat ia menyebut namaku. Ia mengulurkan tangannya, dan jari-jarinya yang panjang dan lentik mulai menjelajahi wajahku, ia mengelus pipiku dengan lembut. Hal yang sudah tidak pernah kurasakan selama dua tahun kami tidak bertemu. Aku tahu, aku telah banyak berubah sejak terakhir bertemu dengannya. Dulu, aku hanya meringis saat ia mencubit pipiku karena aku harus mendongak terus agar bisa memandangnya. Tapi kini, dengan selisih 2 senti saja, aku dapat menatap wajahnya yang cantik hanya dengan memandang lurus ke depan. Aku bukan lagi Ken yang kurus, pendek, dan masih labil. Aku sudah berumur 18 tahun sekarang, 2 tahun lebih muda darinya yang baru menginjak usia duapuluh tahun sebentar lagi.

Terasa bulu-bulu halus di wajahku naik saat ia menggesekkan buku jarinya dengan lembut di pipiku. Senyumanku tidak pernah lenyap sejak detik dimana aku bertemu kembali dengannya. Rambutnya yang pirang sewarna pasir diikat ponytail, dan wajahnya terlihat natural sekali dengan make-up yang tipis.

Ya, dialah Wendy, kakakku. Kakakku satu-satunya, putri pertama kedua orangtua-ku. Setelah berlibur ke Bandung, aku disuruh kemari untuk berlibur sekaligus merayakan ulangtahun bersamanya yang tinggal seminggu lagi. Bali, dia tinggal di sini sejak menyelesaikan kuliah dan bekerja sesuai bidangnya, koki profesional di restoran berbintang lima yang sangat terkenal di Bali.

Aku memeluknya dengan erat, tidak perlu dijelaskan secara khusus. Kakakku ini memang salah satu orang yang paling spesial untukku. Bila Velita adalah matahari yang selalu bersinar di pagi hari dan menerangi hariku, maka Kak Wendy adalah rembulan yang tetap mempertahankan dan memantulkan sinar matahari di malam hari. Namun aku tidak pernah membandingkan mereka, kakakku sudah seperti pacarku sendiri. Aku mencintainya.

"I miss you so much, Kak," kataku dengan suara yang sedikit bergetar. Tidak kuasa kutahan lagi airmata yang kini sudah mulai mengalir menuruni pipiku, jatuh ke tengkuknya. Ia mengangguk kuat-kuat dan melepaskan pelukan kami lagi, menatapku dengan matanya yang memantulkan cahaya matahari akibat gumpalan airmata yang juga sedang ditahannya saat ini. Kakakku ini memang kuat, tegar, dan jarang sekali mau memperlihatkan airmata-nya tumpah. Ia menyapukan punggung tangan ke matanya, lalu kembali tersenyum padaku.

"I miss you too, Ken."

Part 1

Mataku terasa silau saat pandanganku tertuju pada air laut yang jernih. Pasir yang terdapat di dasar air itu maupun di sekitar pesisir pantai tercampur dengan serpihan kristal garam terlihat bercahaya bagai serbuk emas. Mobil jeep hitam milik kak Windy bergerak pelan menyusuri pesisir pantai Kuta yang sepi. Kakakku menyewa Pantai Kuta sebagai lokasi pesta penyambutanku yang akan diadakan malam ini, hingga seminggu ke depan sebagai pesta ulangtahun-nya. Biaya puluhan juta rupiah bukan masalah baginya yang telah mendapatkan gelar koki terkenal dan bekerja di restoran sebuah hotel berbintang lima.

"Bagaimana dengan Bali Ken? Sudah lama kamu tidak ke sini kan?" tanya kak Windy padaku.

"Indah, Kak," jawabku singkat. Kubetulkan letak kacamata hitamku dan menoleh ke arahnya. Ia menghentikan mobilnya dan menoleh ke arahku. Belum sempat aku bertanya apa-apa, tangan kirinya yang halus menjalar naik ke dahiku, menyingkirkan poniku, dan beberapa detik kemudian kurasakan sesuatu yang basah dan lembut mendarat di dahiku. Bibirnya, mendaratkan kecupan kasih sayangnya padaku.

Senyumanku semakin melebar. Kakakku ini memang tidak berubah, ia selalu mengekspersikan perasaan sayangnya padaku melalui perbuatan, bukan kata-katanya. Ia melepaskan kacamata hitamku dan tersenyum menyambut cengiranku.

"Mata indah kamu ga cocok kalau ditutupin pake kacamata hitam, Ken," pujinya. Otot-otot di wajahku terasa panas. Melihat hal itu, kakakku hanya terbahak dan mengacak-acak rambutku, lalu memelukku. Pelukan hangat yang tidak pernah membuatku bosan. Aneh? Memang benar itu adalah kata yang cocok untuk mendeskripsikan keadaanku saat ini.

Hal ini sudah membuatku bingung sejak dulu. 4 tahun yang lalu, saat ia menyelesaikan SMA dengan umur 14 tahun akibat kejeniusannya, aku masih berusia 12 tahun. Dan aku sama sekali tidak menganggapnya lebih dari seorang 'kakak'. Namun 2 tahun kemudian, saat ia pulang di liburan kuliahnya... aku terpesona padanya. Ia begitu banyak berubah. Rambutnya yang hitam-pendek dan dipotong model bob terurai panjang dan berwarna pirang bagai benang emas. Tubuhnya yang dulu kurus dan tidak ada apa-apanya menjadi agak chubby, namun seksi sekali. Dan tentu saja, senyumannya yang manis menjadi semakin manis.

Perasaanku kini tumbuh semakin dalam padamu, Kak. Aku mencintaimu.

"Kak... ," panggilku. Ia melepas pelukannya dan menatapku.

"Hm?"

"Do you love me?"

Entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja keluar dari mulutku. Kulihat ekspresi kakakku menjadi sedikit terkejut, sepertinya ia akan salah tingkah. Senyuman kaku menghiasi wajahnya, aku tahu ia 'sedikit' kebingungan akibat pertanyaanku itu.

"Kak?"

"How can I possibly not loved you, my dearest brother?" ucapnya. Perasaan gembira meluap dalam hatiku, namun masih ada hal yang harus kupastikan. Sekali lagi, aku harus membuat kakak membuktikannya dengan tindakannya.

Siang ini, Kakak mengenakan pakaian Bali, namun dilengkapi dengan syal berwarna krim di lehernya. Seolah ia kedinginan dengan udara yang panas ini. Namuun mungkin inilah yang bisa kumanfaatkan. Perlahan, aku mendekatkan diriku ke arahnya, lalu dengan cepat, tanganku menarik syal yang melilit di lehernya(bukan mencekik), membuat wajahnya tertarik, hingga hanya sisa beberapa senti di depan wajahku.

"Then, prove it with a kiss, Kak."

Ekspresi wajah kakak sungguh lucu saat itu. Matanya yang besar kini seperti akan terlempar keluar karena terkejut. Wajahnya yang sedikit kecoklatan kini merona merah. Aku semakin bersemangat untuk 'mengerjai' kakakku ini. Namun entah kenapa, di sudut hatiku, aku mengharapkan dia untuk melakukannya.

"Eh? K-Kiss?" ucapnya dengan agak terbata-bata.

Ayo Kak, lakukan...

"I'm leaving." Kuangkat tubuhku, hendak keluar dari mobil. Namun dengan gesit, kakak segera menarikku kembali dan menciumku. Ciuman yang kaku sekali, ia 'hanya' menempelkan bibirnya ke bibirku selama beberapa detik, ini pasti ciuman pertamanya, beberapa saat kemudian ia melepas ciuman itu. Wajahnya kini jauh lebih memerah dari sebelumnya. Tapi... ini salah. Aku merebut ciuman pertama kakakku. Ciuman yang harusnya dipersembahkan untuk orang yang benar-benar dicintainya.

"Maafkan aku, Kak," kataku setelah beberapa saat ciuman itu terlepas.

"Kenapa, Ken?"

"Aku merebut ciuman pertama Kakak, harusnya Kakak memberikan itu pada orang yang kakak cintai, Kakak pasti menyesal, maafkan aku," ucapku dengan perasaan bersalah, kutundukkan kepalaku.

Kak Windy mengangkat kepalaku dan tersenyum hangat. Lalu menciumku lagi, kali ini lidahnya mulai bermain dengan liar. Aku membalas ciumannya dengan gesit. Lidah kami saling membelit, dan suara peperangan mulut itu terdengar berirama. Beberapa menit kemudian, ciuman itu terlepas. Sepasang mata cokelat milik Kak Windy menatapku, tidak ada sedikitpun tatapan penyesalan di dalamnya.

"Itu benar Ken, kakak harus menyerahkan ciuman pertama kakak pada orang yang kakak cintai," gumamnya pelan. Ketika rasa bersalah hampir menyergapku kembali, ia melanjutkan:"Tapi kakak tidak menyesal, karena oarng yang kakak cintai adalah dirimu."

Ia tertawa sejenak atas perkataannya tadi dan kemudian melanjutkan perjalanan kami ke hotel tempatku akan tinggal bersamanya nanti.

Kak, seandainya kau tahu bahwa aku mencintaimu lebih daripada cinta seorang adik kepada kakak perempuannya. Aku ingin memilikimu seutuhnya.


Part 2

Kuhempaskan tubuhku si ranjang hotel yang empuk. Dinginnya AC serasa membuat seluruh beban berat yang kutanggung selama perjalanan ini terlepas. Badanku lelah, tapi hatiku berteriak girang. Aku berhasil mendapatkan ciuman pertama kak Windy, sesuatu yang sangat diidam-idamkan oleh orang lain. Seandainya dia...

"Tok! Tok!"

Lamunanku terputus saat kudengar ketukan di pintu kamarku. Dengan cepat kuangkat tubuhku dari ranjang dan beranjak ke pintu, membukanya, dan sosok yang datang benar-benar membuatku terlena.

Kak Windy berdiri di hadapanku, mengenakan kaos putih ketat, menampilkan lekuk tubuhnya yang sempurna, dipadu dengan hot pants berbahan jeans yang hanya bisa menutupi beberapa senti di bawah selangkaannya, membuat gelora dalam hatiku terbakar. Seandainya dia bukan kakakku, mungkin sudah kutarik dia masuk ke dalam kamarku sekarang juga.

"Eh, kak? Ada apa?"

"Gimana beres-beresnya? Kakak mau ngajakin kamu makan nih, pasti laper kan? Hehe," jawabnya seraya mengintip ke dalam kamarku yang memang sudah kutata rapi. Aku mengangguk dan tersenyum, ia membalas senyumku dan mencabut key-card kamarku dari tempatnya dan menggandeng tanganku keluar, berjalan ke resto hotel yang terletak di lantai paling bawah.

Sepanjang jalan, baik dari koridor hingga kami tiba di lobi hotel. Aku bisa melihat setiap pasang mata pria memandang kakakku dengan tatapan tergila-gila. Wajar saja, tubuhnya yang seksi itu memang luar biasa memikat. Tapi kakakku memang belum mau berpacaran dulu, ia lebih mementingkan studi daripada hal-hal asmara, walau aku yakin bukan masalah baginya menemukan orang yang mencintainya.

Ya, aku ingat semasa SMP dulu. Kakakku yang waktu itu baru memasuki SMA sudah terkenal se-antero sekolah karena kecantikan serta keindahan tubuhnya. Setiap hari banyak pemuda SMA yang datang ke rumah kami dan mengaku adalah teman kakakku, walaupun aku tahu ia mengharapkan lebih dari 'pertemanan'.

Aku pernah memergoki kak Windy hendak membuang beberapa kardus-kardus besar, yang ternyata di dalamnya berisi ratusan kotak cokelat, ratusan surat cinta, dan juga puluhan boneka-boneka pemberian para penggemarnya. Sungguh mengerikan. Untunglah, kakakku tetap teguh pada pendiriannya, dan terus terang, aku salut padanya. Aku begitu mengagumi-nya, hingga saat ini, perasaan 'kagum' itu tumbuh menjadi sesuatu yang semakin kuat, ikatan yang tidak dapat dipisahkan, bahkan lebih dari hubungan persaudaraan kami.

Kurasakan sikut kak Windy mendarat dengan lembut di perutku. Aku tersadar dan menoleh, ia menggamit lenganku dan tersenyum. Ternyata kami sudah tiba di pintu restoran. Aku tertawa kecil dan mendorong pintu, lalu memasuki resto bersama kakakku.

Suasana restoran siang ini sangat ramai. Puluhan keluarga sedang menyantap makan siang, mengobrol. Beberapa orang menghalangi jalan hingga kami harus berdesak-desakan. Kak Windy memeluk lenganku,dadanya yang kenyal terasa empuk di sana. Membuat bulu kudukku berdiri. Tiba-tiba muncul pikiran iseng, aku segaja memperlambat, bahkan nyaris memberhentikan langkahku. Kebetulan, kami sedang berada di tengah-tengah segerombol orang yang juga hendak mencari meja.

"Ken, kok berhenti?" tanya kak Windy.

"Wah, depan rame banget Kak, ga bisa jalan," dalihku. Padahal nyatanya, aku malah mundur sedikit agar dadanya tertekan oleh lenganku.

"Oh, kalau gitu tunggu bentar deh," jawab kakakku dengan polos, aku tersenyum kecil, berteriak kegirangan dalam hati.

"Kak, kita senderan di dinding pojokan aja, nungguin meja," ajakku. Kakakku setuju dan kami berjalan ke pojok restoran dan bersandar menunggu. Suasana memang sangat ramai sekali. Nyaris tidak mungkin bergerak di restoran. Tapi justru inilah yang kutunggu-tunggu. Perlahan-lahan tanganku merayap dan memeluk pinggang kakakku. Ia sedikit kaget, tapi segera tersenyum dan memiringkan kepalanya, menjadikan pundakku sebagai tempat bersandarnya.

"Ini pose Romeo & Juliet terbaru ya, Kak?" candaku, ia tertawa keras. Sedikit pengalih perhatian pasti berhasil.

"Jayus ah, Ken!" pekiknya seraya menjulurkan lidahnya.

"Tuh, ketawa!"

Ia tertawa lagi dan memejamkan matanya. Aku menurunkan tanganku perlahan. Hingga akhirnya mendarat di pantatnya yang montok, masih terbungkus hot-pants berbahan jeans yang kasar. Namun kekenyalan serta bentuknya yang bulat sempurna jelas tercetak di balik celana pendeknya itu. Aku memutar jari telunjukku di sana, terkekeh dengan pelan saat kakaku membuka matanya dan memiawik tertahan.

"Kennn!" raungnya kesal. Aku memang sering mengagetkannya. Dimulai dari sentuhan di leher, pinggang, tapi sekarang... kurasa ini adalah daerah paling pribadi-nya yang pernah kusentuh. Kalau dulu aku segera menarik tanganku dan tertawa, kali ini tidak. Aku mulai meremas pantat kak Windy yang montok. "Ihh!" suaranya yang imut itu justru semakin menambah keinginanku untuk berbuat hal-hal yang nakal padanya.

"Hehe, kakakku semakin seksi saja," pujiku. Ia menatapku dengan cengirannya yang tidak bisa kuartikan. Antara nakal, kesal, atau malu.

"Kamu memang adik yang beruntung Ken, sebelumnya, mana ada cowok yang Kakak ijinin buat 'grepe-grepe' badan kakak," ujarnya dengan nada yang sedikit ditekankan. Aku tertawa kecil dan mencubit pantatnya. "Aw!" pekiknya pelan.

"Terus kok nggak dihentikan?"

"Habis..."

"Suka ya?" pancingku. Ia memalingkan wajahnya yang kuyakin sudah sangat memerah. Dengan pelan aku memutar kepalanya dan menatap ke dalam mata cokelatnya yang indah. Pipinya yang putih kini merona, membuatnya terlihat sangat manis. "Kakak cantik, deh." kataku.

Ia menggeleng kuat-kuat dan menjulutkan lidahnya.

"Bohong!" teriaknya keras-keras, lalu tertawa. Aku menaikkan sedikit tanganku dari pantatnya dan menaikkan kaosnya tanpa ia sadari. "Adikku kan sudah dapat pacar cakep, masih aja gombalin kakaknya! Nakal ah!" sindirnya. Aku memanyunkan bibirku, pura-pura merajuk.

"Kakak nyebelin!" ujarku dengan nada bete.

"Yee, kayak anak kecil aja, bete gitu. Tuh bibir pake acara manyun segala, minta dicium ya?" ujarnya dengan nada bercanda. Aku tersenyum dan menatapnya dengan tatapan menantang.

"Coba aja klo berani!"

Kakakku mendekatkan wajahnya, pelan sekali. Wajahnya kali ini terlihat jelas menyiratkan kekhawatiran dan kecemasan, bagaimana-pun juga, ia pasti tahu bahwa situasi saat ini bukan main-main. Aku adalah adiknya, adik kandung-nya, tapi sepertinya... entah karena tantanganku, nafsu, kasih sayang, atau mungkin 'cinta'-nya padaku. Ia tetap mengambil resiko.

Kupejamkan mataku dan menyambut bibirnya yang mungil. Kakakku tidak melawan, ia menjulurkan lidahnya, dan aku menyambutnya. Ia cepat belajar rupanya. Hanya dengan ciuman singkat itu, ia bisa mengetahui detail mulutku, lidahku, hingga ia bisa membalas ciumanku dengan akurat.

Suasana restoran itu masih ramai, sehingga tidak mungkin ada tamu yang melihat kami. Apalagi kami berada di pojok, dan tertutupi tiang beton yang cukup lebar. Aku menciumnya semakin ganas, memagut bibirnya dengan nikmat sedangkan kakakku menerima semua itu dengan desahannya yang kecil, serta suara nafasnya yang berpacu dengan jantungnya. Kupeluk kakakku, lalu perlahan-lahan melepas ciuman. Benang ludah jatuh menjuntai, menghubungkan bibirku dan bibirnya. Kami terengah-engah, tapi saling tersenyum puas.

"Wah, beruntung banget Velita, kakak cemburu!" Kali ini giliran kakakku yang memanyungkan bibirnya. Aku tersenyum dan memeluknya dari belakang.

"Kakak mau... kuperlakukan seperti Velita?"

Ia terdiam.

"Kak?" tanyaku lagi, aku berusaha mengintip wajahnya dari balik rambutnya yang panjang. Namun belum sempat aku melihat apa-apa, ia mengangguk pelan.

Perlahan, kusingkirkan rambut panjangnya dan mulai melahap telinganya. Tubuhnya yang langsing sedikit tersentak, namun helaan nafasnya semakin berat.

"Hhhh, Ken..." katanya, terbata. Aku menjilati telinga bagian dalamnya. Tubuhnya sangat sensitif, mungkin ini pertama kalinya ia menerima sentuhan seperti ini.

Kutarik tubuhnya menempel ke tubuhku. Pantatnya yang montok menempel di penisku yang mulai membesar di balik celana panjangku.

"Ken... don't..." ucapnya, mulai mencoba meronta, namun tubuhnya bergetar lemah. Tidak ada tenaga yang keluar, hanya ada desahan berat, yang semakin lama semakin keras. Aku tahu klimaksnya tidak akan lama. Dengan cepat kugesekkan penisku di antara belahan pantatnya.

"Ahh, ngg... ahh! Ken... stop... I'm gonna... nggg..."

Katanya terhenti, kak Windy menutup mulutnya dengan cepat. Tubuhnya tersentak kuat ke arahku. Kupeluk dia dengan erat. Membiarkannya menikmati sensasi dahsyat yang menjalari tubuhnya. Dengan cepat aku tersadar, restoran mulai sepi, dan bisa saja kami terlihat. Dengan cepat kugendong kakakku yang masih lemas.

"Kita harus ke toilet."


Part 2

Kuhempaskan tubuhku si ranjang hotel yang empuk. Dinginnya AC serasa membuat seluruh beban berat yang kutanggung selama perjalanan ini terlepas. Badanku lelah, tapi hatiku berteriak girang. Aku berhasil mendapatkan ciuman pertama kak Windy, sesuatu yang sangat diidam-idamkan oleh orang lain. Seandainya dia...

"Tok! Tok!"

Lamunanku terputus saat kudengar ketukan di pintu kamarku. Dengan cepat kuangkat tubuhku dari ranjang dan beranjak ke pintu, membukanya, dan sosok yang datang benar-benar membuatku terlena.

Kak Windy berdiri di hadapanku, mengenakan kaos putih ketat, menampilkan lekuk tubuhnya yang sempurna, dipadu dengan hot pants berbahan jeans yang hanya bisa menutupi beberapa senti di bawah selangkaannya, membuat gelora dalam hatiku terbakar. Seandainya dia bukan kakakku, mungkin sudah kutarik dia masuk ke dalam kamarku sekarang juga.

"Eh, kak? Ada apa?"

"Gimana beres-beresnya? Kakak mau ngajakin kamu makan nih, pasti laper kan? Hehe," jawabnya seraya mengintip ke dalam kamarku yang memang sudah kutata rapi. Aku mengangguk dan tersenyum, ia membalas senyumku dan mencabut key-card kamarku dari tempatnya dan menggandeng tanganku keluar, berjalan ke resto hotel yang terletak di lantai paling bawah.

Sepanjang jalan, baik dari koridor hingga kami tiba di lobi hotel. Aku bisa melihat setiap pasang mata pria memandang kakakku dengan tatapan tergila-gila. Wajar saja, tubuhnya yang seksi itu memang luar biasa memikat. Tapi kakakku memang belum mau berpacaran dulu, ia lebih mementingkan studi daripada hal-hal asmara, walau aku yakin bukan masalah baginya menemukan orang yang mencintainya.

Ya, aku ingat semasa SMP dulu. Kakakku yang waktu itu baru memasuki SMA sudah terkenal se-antero sekolah karena kecantikan serta keindahan tubuhnya. Setiap hari banyak pemuda SMA yang datang ke rumah kami dan mengaku adalah teman kakakku, walaupun aku tahu ia mengharapkan lebih dari 'pertemanan'.

Aku pernah memergoki kak Windy hendak membuang beberapa kardus-kardus besar, yang ternyata di dalamnya berisi ratusan kotak cokelat, ratusan surat cinta, dan juga puluhan boneka-boneka pemberian para penggemarnya. Sungguh mengerikan. Untunglah, kakakku tetap teguh pada pendiriannya, dan terus terang, aku salut padanya. Aku begitu mengagumi-nya, hingga saat ini, perasaan 'kagum' itu tumbuh menjadi sesuatu yang semakin kuat, ikatan yang tidak dapat dipisahkan, bahkan lebih dari hubungan persaudaraan kami.

Kurasakan sikut kak Windy mendarat dengan lembut di perutku. Aku tersadar dan menoleh, ia menggamit lenganku dan tersenyum. Ternyata kami sudah tiba di pintu restoran. Aku tertawa kecil dan mendorong pintu, lalu memasuki resto bersama kakakku.

Suasana restoran siang ini sangat ramai. Puluhan keluarga sedang menyantap makan siang, mengobrol. Beberapa orang menghalangi jalan hingga kami harus berdesak-desakan. Kak Windy memeluk lenganku,dadanya yang kenyal terasa empuk di sana. Membuat bulu kudukku berdiri. Tiba-tiba muncul pikiran iseng, aku segaja memperlambat, bahkan nyaris memberhentikan langkahku. Kebetulan, kami sedang berada di tengah-tengah segerombol orang yang juga hendak mencari meja.

"Ken, kok berhenti?" tanya kak Windy.

"Wah, depan rame banget Kak, ga bisa jalan," dalihku. Padahal nyatanya, aku malah mundur sedikit agar dadanya tertekan oleh lenganku.

"Oh, kalau gitu tunggu bentar deh," jawab kakakku dengan polos, aku tersenyum kecil, berteriak kegirangan dalam hati.

"Kak, kita senderan di dinding pojokan aja, nungguin meja," ajakku. Kakakku setuju dan kami berjalan ke pojok restoran dan bersandar menunggu. Suasana memang sangat ramai sekali. Nyaris tidak mungkin bergerak di restoran. Tapi justru inilah yang kutunggu-tunggu. Perlahan-lahan tanganku merayap dan memeluk pinggang kakakku. Ia sedikit kaget, tapi segera tersenyum dan memiringkan kepalanya, menjadikan pundakku sebagai tempat bersandarnya.

"Ini pose Romeo & Juliet terbaru ya, Kak?" candaku, ia tertawa keras. Sedikit pengalih perhatian pasti berhasil.

"Jayus ah, Ken!" pekiknya seraya menjulurkan lidahnya.

"Tuh, ketawa!"

Ia tertawa lagi dan memejamkan matanya. Aku menurunkan tanganku perlahan. Hingga akhirnya mendarat di pantatnya yang montok, masih terbungkus hot-pants berbahan jeans yang kasar. Namun kekenyalan serta bentuknya yang bulat sempurna jelas tercetak di balik celana pendeknya itu. Aku memutar jari telunjukku di sana, terkekeh dengan pelan saat kakaku membuka matanya dan memiawik tertahan.

"Kennn!" raungnya kesal. Aku memang sering mengagetkannya. Dimulai dari sentuhan di leher, pinggang, tapi sekarang... kurasa ini adalah daerah paling pribadi-nya yang pernah kusentuh. Kalau dulu aku segera menarik tanganku dan tertawa, kali ini tidak. Aku mulai meremas pantat kak Windy yang montok. "Ihh!" suaranya yang imut itu justru semakin menambah keinginanku untuk berbuat hal-hal yang nakal padanya.

"Hehe, kakakku semakin seksi saja," pujiku. Ia menatapku dengan cengirannya yang tidak bisa kuartikan. Antara nakal, kesal, atau malu.

"Kamu memang adik yang beruntung Ken, sebelumnya, mana ada cowok yang Kakak ijinin buat 'grepe-grepe' badan kakak," ujarnya dengan nada yang sedikit ditekankan. Aku tertawa kecil dan mencubit pantatnya. "Aw!" pekiknya pelan.

"Terus kok nggak dihentikan?"

"Habis..."

"Suka ya?" pancingku. Ia memalingkan wajahnya yang kuyakin sudah sangat memerah. Dengan pelan aku memutar kepalanya dan menatap ke dalam mata cokelatnya yang indah. Pipinya yang putih kini merona, membuatnya terlihat sangat manis. "Kakak cantik, deh." kataku.

Ia menggeleng kuat-kuat dan menjulutkan lidahnya.

"Bohong!" teriaknya keras-keras, lalu tertawa. Aku menaikkan sedikit tanganku dari pantatnya dan menaikkan kaosnya tanpa ia sadari. "Adikku kan sudah dapat pacar cakep, masih aja gombalin kakaknya! Nakal ah!" sindirnya. Aku memanyunkan bibirku, pura-pura merajuk.

"Kakak nyebelin!" ujarku dengan nada bete.

"Yee, kayak anak kecil aja, bete gitu. Tuh bibir pake acara manyun segala, minta dicium ya?" ujarnya dengan nada bercanda. Aku tersenyum dan menatapnya dengan tatapan menantang.

"Coba aja klo berani!"

Kakakku mendekatkan wajahnya, pelan sekali. Wajahnya kali ini terlihat jelas menyiratkan kekhawatiran dan kecemasan, bagaimana-pun juga, ia pasti tahu bahwa situasi saat ini bukan main-main. Aku adalah adiknya, adik kandung-nya, tapi sepertinya... entah karena tantanganku, nafsu, kasih sayang, atau mungkin 'cinta'-nya padaku. Ia tetap mengambil resiko.

Kupejamkan mataku dan menyambut bibirnya yang mungil. Kakakku tidak melawan, ia menjulurkan lidahnya, dan aku menyambutnya. Ia cepat belajar rupanya. Hanya dengan ciuman singkat itu, ia bisa mengetahui detail mulutku, lidahku, hingga ia bisa membalas ciumanku dengan akurat.

Suasana restoran itu masih ramai, sehingga tidak mungkin ada tamu yang melihat kami. Apalagi kami berada di pojok, dan tertutupi tiang beton yang cukup lebar. Aku menciumnya semakin ganas, memagut bibirnya dengan nikmat sedangkan kakakku menerima semua itu dengan desahannya yang kecil, serta suara nafasnya yang berpacu dengan jantungnya. Kupeluk kakakku, lalu perlahan-lahan melepas ciuman. Benang ludah jatuh menjuntai, menghubungkan bibirku dan bibirnya. Kami terengah-engah, tapi saling tersenyum puas.

"Wah, beruntung banget Velita, kakak cemburu!" Kali ini giliran kakakku yang memanyungkan bibirnya. Aku tersenyum dan memeluknya dari belakang.

"Kakak mau... kuperlakukan seperti Velita?"

Ia terdiam.

"Kak?" tanyaku lagi, aku berusaha mengintip wajahnya dari balik rambutnya yang panjang. Namun belum sempat aku melihat apa-apa, ia mengangguk pelan.

Perlahan, kusingkirkan rambut panjangnya dan mulai melahap telinganya. Tubuhnya yang langsing sedikit tersentak, namun helaan nafasnya semakin berat.

"Hhhh, Ken..." katanya, terbata. Aku menjilati telinga bagian dalamnya. Tubuhnya sangat sensitif, mungkin ini pertama kalinya ia menerima sentuhan seperti ini.

Kutarik tubuhnya menempel ke tubuhku. Pantatnya yang montok menempel di penisku yang mulai membesar di balik celana panjangku.

"Ken... don't..." ucapnya, mulai mencoba meronta, namun tubuhnya bergetar lemah. Tidak ada tenaga yang keluar, hanya ada desahan berat, yang semakin lama semakin keras. Aku tahu klimaksnya tidak akan lama. Dengan cepat kugesekkan penisku di antara belahan pantatnya.

"Ahh, ngg... ahh! Ken... stop... I'm gonna... nggg..."

Katanya terhenti, kak Windy menutup mulutnya dengan cepat. Tubuhnya tersentak kuat ke arahku. Kupeluk dia dengan erat. Membiarkannya menikmati sensasi dahsyat yang menjalari tubuhnya. Dengan cepat aku tersadar, restoran mulai sepi, dan bisa saja kami terlihat. Dengan cepat kugendong kakakku yang masih lemas.

"Kita harus ke toilet."

Part 3

"Brak!"

Pintu terbanting dengan keras saat aku menutupnya. Kutatap cermin besar di depanku, melihat wajahku bersemu merah. Wajar saja, ini toilet perempuan! Dan aku, Ken, seorang pria remaja menggendong kakakku ke sini? Astaga...

"Hhhh... Ken, masuk ke dalem..."

Nafas kakakku masih tersengal. Namun tangannya menunjuk ke salah satu pintu yang berderet di sampingku. Aku mengangguk dan menggendongnya memasuki kamar kecil itu, kukunci pintu dengan cepat, dan kududukkan dia ke atas toilet duduk. Kakakku berkeringat, wajahnya terlihat memerah dan rambutnya agak awut-awutan. Aku tidak menyangka 1 orgasme bisa membuatnya seperti ini.

"Maaf Kak."

Maaf, kata yang sangat pantas sekali kuucapkan. Kami saudara! Dan aku baru saja membuatnya orgasme! Setan apa yang merasukiku? Dia bukan Velita, Tifanny, Catty, ataupun Sherly! Yang bisa kupermainkan sesuai perasaanku, tapi dia memiliki hubungan darah denganku, sesuatu yang tidak akan pernah bisa kuputuskan. Ikatan darah, ikatan terkutuk yang memberiku keuntungan dan kerugian sekaligus! Sial.

Ia tidak menjawab, tatapan matanya tetap hangat. Aku tidak berani menatap wajahnya yang seperti malaikat itu.

Oh, Kak! Hukum aku! Tampar aku! Asal jangan perlihatkan wajah seperti itu kepadaku!

Kupejamkan mataku rapat-rapat sampai kelopak mataku serasa akan robek. Helaan nafas yang berat itu tetap terdengar, semakin mendekat... semakin mendekat.

"Byuuur!"

Suara percikan air, apa yang dilakukan oleh kakak? Aku ingin membuka mataku, tapi...

"Ehmmm... Hmmm."

Apa ini?

Tanganku yang semula lemas mulai mengepal. Otot-otot tubuhku berkontraksi saat sensasi hebat itu mulai menjalari tubuhku.

Dengan sangat perlahan, kuangkat kelopak mataku... di saat itulah aku melihat sosoknya... sosok kakak yang begitu kucintai, dengan seluruh tubuh yang basah oleh air, namun bukan itu yang membuatku terkejut... dia menciumku, lagi, kali ini tanpa perintah atau permintaanku. Namun, semua ketakutan yang terpancar darinya kini lenyap. Ia menciumku dengan sangat dalam dan hangat.

Tenggorokanku seperti terbakar. Nafasnya yang sedingin es terasa lembut dan semakin menghangat tiap lidahnya menemukan lidahku, mengisap dan mengulumnya dengan nafsu. Aku tidak peduli, tidak... sekalipun semua orang mengutukku, aku mencintainya.

Ciuman kami terlepas. Kutatap rambut pirang pasir-nya yang basah. Wajahnya merona, penuh perasaan bersalah, ia gelisah.

"Ken..." panggilnya. Aku menatapnya. "Why? I can't love every men I met... I don't feel anything! I'm numb! But now... my chest felt warm... my little brother, why can't I stop giving my love to you? Everytime I see your smile, I tried to hold my feelings, but it's just get stronger... I changed my appearance just for you, I smile just for you, and I gave my first kiss to you."

Aku menundukkan kepala, semakin merasa bersalah. Dosa yang telah kuperbuat, kenapa harus ditanggung oleh orang-orang yang kucintai? Kenapa harus dia? Kenapa keegoisanku menyebabkan kakak yang sangat kusayangi yang harus menanggung beban?

"But..." Ia meneruskan kata-katanya, aku mengangkat sedikit wajahku, melihatnya tersenyum manis di depanku dengan air mata berlinang. "I have no regret... because I love you, Ken."

Ia menarikku dalam pelukannya. Keraguanku terhapus seketika, membuatku refleks melahap bibirnya yang mungil, yang langsung dibalasnya oleh penuh nafsu. Kali ini hubungan kami telah lebih dari sekedar kakak dan adik. Kami saling mencintai, dan itulah keyakinan kuat yang kami pegang. Aku mencintai kak Windy, dan dia mencintaiku.

Kuputar tubuhnya, memeluknya dari belakang dan terus menciumi bibirnya, sementara tanganku mulai menjalar naik, menyentuh bagian perutnya. Bajunya yang basah terasa halus. Tanganku menyusup masuk dan membelai perutnya perlahan, disusul dengan ciumanku yang turun ke lehernya.

"Uhh... Ahhh," desahnya penuh nikmat saat aku terus merangsangnya. Lehernya juga merupakan bagian sensitif dari tubuhnya, tapi aku tidak ingin berlama-lama di satu tempat, ciumanku semakin turun, ke perutnya. Kini posisiku berubah menjadi jongkok di depannya. Kusingkap sedikit baju kak Windy sehingga memperlihatkan perutnya yang rata, putih, dan mulus.

"It's embarrassing...," katanya pelan. Aku tersenyum dan menjilati pusarnya. Tubuh kakakku bergetar karena geli. Tangannya mencengkeram rambutku dengan lembut. "Ahh... s...stop..."

Tangannya terasa bergetar, kuangkat sedikit kepalaku hingga masuk ke dalam kaos putihnya yang basah. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk melepas bra berwarna hijau muda yang melindungi dadanya. Kini, payudara kakakku terpampang jelas di depanku. Ukurannya kira-kira seperti Velita, dengan putingnya yang telah mulai mengeras berwarna cokelat muda.

Lidahku langsung menjilati dengan semangat kedua gunung kembar itu. Desahan kakakku pun semakin terdengar kuat.

"Ahhh! Engg....S-STOP Ken... Erhhh..."

Aku tersenyum sambil menjilatinya. Kakakku ini mengingatkanku pada Velita. Selain karena rambut mereka berwarna sama, tubuh mereka serta sifat mereka dalam menerima rangsanganku pun mirip. Pertama kali aku menyentuh tubuh Velita, ia terus mendesah nikmat, namun terus menyuruhku berhenti, tapi kalau aku berhenti... dia selalu meminta lagi(kapan-kapan akan diceritakan seri pertama kali 'softcore' dengan Velita ^^).

Tanganku ikut menyusup ke dalam kaosnya, cukup ketat, namun tidak masalah karena sudah sedikit longgar terkena air. Kuremas dadanya dengan pelan, dan jilatanku pindah ke putingnya, menyedotnya perlahan. Desahannya tertahan, dan ia menjerit. Sedikit kaget, aku menarik keluar kepalaku dan menatap wajah kakakku yang sudah terlihat sangat memerah, tubuhnya lemas, sepertinya ia baru mendapat orgasme lagi...

"No... Not my nipples..." katanya pelan. Kupeluk tubuh kakakku, menenangkannya. Tubuhnya bergetar hebat. Aku tertawa dalam hati, ternyata titik lemahnya adalah putingnya. Pantas saja dadanya sangat sensitif. Memang ia 98% mirip dengan Velita.

"Sorry Sis, it hurts?" tanyaku pelan. Kuelus kepalanya lembut. Semoga pelukan ini bisa sedikit memberi kehangatan, apalagi ditambah dengan badannya yang basah. Ia menggeleng pelan.

"More..." gumamnya.

"Sis, your body is shaking," kataku, memperingatkannya. Ia masih meminta lagi, orgasme ketiga, walau aku tidak yakin badannya yang sangat sensitif itu bisa menahannya.

"I want it... once more... please..." rengeknya. Tangannya bergerak turun, membelai bagian depan hotpants-nya tepatnya di area selangkaannya. "I feels weird in this area... it's itchy..."

Ia membuka resleting hotpants itu, kemudian menuntun jariku ke sana, ke area selangkaannya yang masih tertutup celana dalam G-String yang berwarna sama dengan bra-nya. Basah, namun aku yakin bukan karena air.

"Do it here Ken, please..."

Penisku sudah ereksi di balik celana dalamku, akhirnya aku menggeleng pasrah dan duduk di atas dudukan toilet yang ditutup. Kakakku yang kebingungan segera kutarik, sehingga ia jatuh terduduk di atas perutku, dengan selangkaannya bersentuhan dengan tonjolan di balik celana panjangku.

"Ken? So... hard..." gumamnya pelan, sedikit terkejut, ia menatapku dengan matanya yang membulat. Aku hanya nyengir dengan wajah merona. Ia membalas cengiranku dengan senyum nakalnya. "Bad boy..."

Aku tertawa pelan, lalu menarik sedikit tubuhnya, membiarkannya menindih tubuhku dengan lembut. Kucium lehernya dengan pelan, sementara tanganku meremas dadanya. Kakakku menggerakkan sedikit demi sedikit pantatnya, menggesek-gesek penisku.

"You like it, don't you?" tanyanya. Aku tersenyum dan menggigit pelan lehernya, lalu menjilatnya dengan semakin cepat. Kakakku yang mengerti isyaratku segera menjepitkan pahanya dan menggerakkannya dengan kecepatan yang seirama dengan jilatanku. Sensasi dijepit oleh pahanya yang putih, mulus, dan lembut membuatku serasa melayang, sayang... aku belum berani melakukannya lebih jauh, hanya petting seperti ini yang bisa kulakukan.

"Kennn! Touch it! Ahhh!" ujarnya tak sabar. Aku tahu ia menyuruhku untuk membuatnya orgasme melalui vaginanya, tapi...

Aku menggeleng, sudahlah... nasi sudah menjadi bubur. Kugeser tanganku dan mulai menelusuri celana dalamnya, memijat-mijat bibir vaginanya dengan lembut. Kakakku menggigit bibirnya untuk menahan rasa nikmat, karena tubuhnya bergerak-gerak, otomatis membuat penisku semakin tergesek oleh paha dan pantatnya.

Kusingkirkan celana dalamnya dan mengelus vaginanya dengan jariku.

"Ngg... Ken... put it in... your finger... please..."

Aku memutar jariku di atas bibir vaginanya, lalu mulai menusukkan jari telunjukku. Tubuh kak Windy bergelinjang hebat tiap kali jariku masuk semakin dalam, hingga akhirnya seluruh jari telunjukku masuk dalam vaginanya. Lembut dan hangat, serta otot-otot vagina yang masih sangat sempit. Kuputar jariku dengan pelan di sana, memainkannya.

"A...Ahhh! AHhhh!" kakakku menutup mulutnya, menatap ke langit-langit ruangan kecil tempat kami 'bermain'. Wajahnya terlihat susah payah menahan sensasi yang kini dirasakan olehnya, namun...

"Hei Ren, kamu dengar sesuatu ga?"

Suara orang membuatku mendadak merasa jari orang tolol sedunia. Aku lupa kalau kami sedang 'bermain' di toilet umum! Gawat! Kakakku menatapku dengan wajahnya yang pucat, namun aku tersenyum saja.

"Nggak kok, perasaan kamu aja kali, udah buruan sana, ganti! Sebelum bocor!"

Aku mendengar suara langkah kaki dan pintu menutup tepatnya di ruangan sebelah. Aman. Kudekatkan wajahku dan menjilat telinga kak Windy.

"Kakak semakin terangsang kan... mendengar orang-orang itu?"

Kakakku nampak kaget, ia menggeleng kuat-kuat.

"Tapi kenapa... di sini kerasa sempit banget ya?"

Kugerakkan jariku perlahan dalam vaginanya. Kakakku menatapku dengan panik. Tatapannya jelas menyuruhku berhenti.

"Sayang sekali... Kak~"

Sebelum kakakku mencerna ucapanku, kutusukkan jari tengahku ke dalam vaginanya dan menggerakkan kedua jari itu di dalamnya.

"Hiikk!" kakakku menjerit tertahan. Nafasnya putus-putus, namun lidahnya nampak terjulur. Aku menusuk-nusuk vagina perawan itu dengan pelan. Tidak boleh sampai merusak selaput dara-nya...

"Nona? Anda baik-baik saja? Kami mendengar suara aneh di dalam sana." kata seorang wanita di luar sana. Kakakku menatapku sejenak, aku menggeleng dengan senyuman nakal.

"Eng... nggak, apa... apa... hhh, cuma... ngerasa... ahhh.. sedikit gatal." (silakan gunakan imajinasi anda untuk memecahkan arti kata 'gatal')

"Wah, bahaya tuh mbak, cek ke dokter aja, jangan digaruk terlalu kuat."

"Oh... ahhh, oke..."

Aku tertawa dalam hati mendengar percakapan konyol itu, dengan iseng kutarik klirotis kakakku, membuatnya menjerit kecil.

"Kenapa mbak?"

"Nggak, cuma...ahhh...ngerasa sedikit lebih baik," jawab Kak Windy. Sungguh, membuat tawaku ingin meledak.

"Oh, oke mbak, permisi."

"Hhhh... I...I..."

Vaginanya semakin rapat, dan cairan kental mulai melumuri tanganku. Kakakku menutup mulutnya lagi, nafasnya terdengar sangat cepat.

"Ayo kak... keluarin aja..." pancingku, kugesekkan penisku ke pantatnya guna merangsangnya lebih.

"Y...YESSSS!"

Sedetik setelah pintu toilet umum itu terdengar menutup, kakakku mendesah sekuatnya, bersamaan dengan cairan vaginanya menyembur dengan banyak keluar. 2, bahkan 3 kali. Tubuhnya terasa mengejang setiap cairan itu keluar dari vaginanya.

"Ahhh! AHHHH! YESHHH!"

Akhirnya cairan itu mereda. Tubuh kakakku bersimbah keringat, tertidur di atasku. Kusingkirkan poninya dan kukecup dahinya yang bersimbah keringat.

I Love You, Windy.

-BERSAMBUNG-


@



0 komentar:

Posting Komentar - Kembali ke Konten

Ken-Windy, The Sister