Kencan dengan janie

Kami tinggal didaerah pedesaan 18 km dari kota. Tidak ada trayek bus yang bisa menjangkau daerah kami. Sebenarnya tinggal di desa tidak terlalu jelek, karena daerah kami juga memiliki fasilitas penunjang perekonomian yang cukup lengkap. Sehingga kami bisa tinggal cukup nyaman.

Permasalahan yang mungkin masih ada hanyalah kehidupan sosial. Kami jarang saling kunjung-mengunjungi sesama teman-teman sekolah karena kesulitan transportasi, dan rumah tetangga kami juga saling berjauhan letaknya sehingga hubungan anak-anak pun tidak terlalu rapat.

Aku dan adikku Janie yang usianya hanya selisih 2 tahun, sudah terbiasa hidup menyendiri. Karena kebetulan usia kami juga sebaya, maka teman-temanku pun juga sama dengan teman-temannya, sehingga hubungan kami pun menjadi semakin dekat, bukan hanya sebagai adik-kakak.

Janie yang saat ini berusia 16 tahun, tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang sangat cantik. Lekukan tubuhnya nyaris sempurna, pinggul dan dadanya meskipun tidak terlalu besar, tapi tampak padat dan indah sekali. Banyak temanku laki-laki yang memujinya sebagai gadis yang cantik dan sexy sekali.
Meskipun hubungan kami berdua sangat rapat, tapi kami berdua tidak pernah menyinggung masalah sexual. Aku tidak pernah melihat tubuhnya telanjang sejak 4-5 tahun terakhir. Kami juga tidak pernah main ‘dokter-dokteran’ atau yang semacam itu. Bahkan kami juga tidak pernah membicarakan masalah sex, sehingga aku nggak pernah tahu seberapa pengetahuannya ataupun apa yang dipikirkannya. Aku juga tidak pernah melihat Janie berhubungan terlalu dekat dengan teman laki-lakinya. Sehingga aku yakin bahwa sampai saat ini dia masih perawan.

Demikian pula aku, aku tidak pernah menyentuh bagian sexual tubuh seorang gadis. Aku belum pernah melihat bentuk buah dada atau vagina seorang gadis, kecuali gambar-gambar di majalah. Aku terkadang juga memimpikan melihat dan meraba tubuh telanjang seorang gadis, khususnya saat aku sedang melakukan onani. Dan hanya sebatas itu pula pengalamanku tentang masalah sexual.

Situasi ini berlangsung sampai suatu hari kedua orang tua kami pergi ke kota untuk ber-week end dan sekalian melayat teman dekat ayahku yang meninggal, sehingga harus meninggalkan rumah 3 hari. Karena kami memiliki banyak binatang peliharaan maka tidak mungkin kami pergi semua. Untuk itu aku ditugaskan untuk tetap tinggal dirumah merawat binatang peliharaanku. Ketika Janie tahu aku tidak ikut pergi, maka dia pun memilih tetap tinggal di rumah pula. Dan akhirnya ayah-ibuku setuju dengan syarat kita berdua tidak boleh pergi kencan dengan teman-teman kami selama mereka pergi. Tapi mereka setuju kalau aku nonton film di drive-in, asal mengajak Janie sekalian. Akhirnya ayah dan ibu berangkat hari jum’at pagi, bersama kami berangkat kesekolah.
Setelah pulang sekolah aku dan Janie tiba dirumah dengan menumpang bus sekolah. Setelah itu aku segera ke gudang menyiapkan makanan buat binatang-binatang peliharaan kami, membersihkan kandang ayam dan lain-lain.

Setelah semua tugas selesai akupun masuk kerumah. Ternyata Janie sudah menyiapkan makanan diatas meja. Janie memang pandai memasak, aku sangat suka masakan buatannya.

“Janie, sepertinya kamu sedang berusaha menjadi istri yang baik buatku,” pujiku.

Janie pun tersenyum manis, “Banyak hal yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang istri yang baik. Aku pun tidak tahu banyak tentang itu, tapi aku akan berusaha menemukan itu”

“Kamu sudah memiliki semua persyaratan yang diperlukan,” sahutku sambil tertawa.

“Well, mungkin ya, mungkin juga tidak,” ujarnya dengan senyuman aneh penuh teka-teki, “Yang jelas, kenapa kita tidak siap-siap mandi untuk pergi nonton film. Kamu akan mengajakku nonton film malam ini bukan?”

“OK, kamu menang” kataku, tapi aku ingin menggoda lagi adikku ini, “Akhirnya kamu berhasil juga pergi kencan, tapi sayangnya dengan kakakmu sendiri”

Dengan senyuman aneh dibalik mimik wajahnya, Janie menjawab, “Ok, mari kita bersenang-senang kak, aku harap tidak semuanya jelek. Sebenarnya banyak teman-temanku yang bersedia menggantikan tempatku malam ini”

“Ya, aku percaya. Siapa yang kamu maksudkan? Si kurus Sally?”

Janie tersenyum, “Dia memang bisa juga, tapi yang aku maksudkan Lauren”

“Lauren Wilton? Maksudmu Lauren Wilton ingin kencan denganku? Bagaimana kamu tahu? Dia begitu pendiam, aku tidak mengira kalau dia berani mengatakan hal itu”

Janie tersenyum dan berkata, “Dia cuma pendiam didekat anak laki-laki. Tapi didekat gadis-gadis lainnya tidak demikian. Dia banyak cerita kepadaku tentang dirinya, diantaranya bersifat sangat pribadi. Salah satu diantaranya sesuatu yang ‘hot’ tentang dirimu”

Aku benar-benar terkejut dengan cerita Janie. Lauren Wilton adalah gadis sebaya Janie, setahuku dia adalah seorang gadis yang pendiam dan tertutup. Aku pikir dia cantik, bukan hanya cantik tapi juga sexy, dengan type body cheerleadernya. Aku mulai berpikir lebih lanjut tentang Lauren, suatu saat jika ketemu aku mungkin mengajaknya kencan. Aku tidak yakin dengan apa yang dimaksudkan Janie dengan ‘hot’, tapi itu sepertinya merupakan harapan yang lebih baik dari sekedar berpegangan tangan. Karena kakak Lauren adalah temanku, aku jadi agak enggan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang ‘hot’tersebut.

Aku juga terkejut Janie mengunakan kata-kata yang menggambarkan tentang perasaan Lauren. Aku menganggap Janie adalah seorang gadis yang sangat polos dan tidak paham tentang permasalahan sex, tapi sepertinya dia sedikit lebih tahu tentang masalah sex dari aku sendiri. Hal ini bisa aku lihat dari caranya menerangkan tentang hubungannya dengan Lauren dan kawan-kawannya tentang apa yang dilakukan seorang pemuda dan mungkin Janie telah mengetahui jauh lebih dalam dan luas dari pada dirinya. Aku jadi khawatir aku telah salah menduga tentang dirinya.

Mungkin dia sudah tidak perawan, mungkin dia telah berbohong. Aku penarasan untuk mencari tahu pemuda mana yang telah merampok ‘taman kecilnya’. Dari rahasiaku yang paling tersembunyi, tentang fantasi masturbasiku, aku pernah membayangkan melakukan itu pada Janie.

“Bagaimana jika dia telah melakukan hal itu tanpa sepengetahuanku? Bagaimanapun juga aku harus mencari tahu tentang Janie sebelum week-end ini berakhir dan ayah-ibuku kembali. Aku harus tahu juga tentang Lauren.”


Akhirnya aku selesai mandi dan ganti baju, ketika hari mulai petang. Janie sudah siap menungguku. Dia mengenakan kaus pendek dan celana jean yang semakin menonjolkan bentuk bukit dada dan pinggulnya yang padat berisi. Jika bukan adikku, mungkin aku sudah tergiur dan bersuit memujinya.

“Gadis ini benar-benar telah masak,” pikirku. “Pemuda-pemuda akan segera ingin memetik perawan ini, dan seperti juga diriku,” aku tidak dapat mencegahnya tapi aku sedikit cemburu kepada pemuda yang akan beruntung mendapatkannya.
Ketika berangkat menuju pickup, Janie melingkarkan tangannya kepinggangku dan dengan tersenyum lebar dia berkata,

“Hai kakak kencanku. Aku sangat gembira kamu mengajakku nonton film sendiri. Dengan begini aku dapat membayangkan seperti pergi kencan dengan pemuda. Kencan bersama dengan lainnya sudah baik, tapi kencan cuman berdua tentunya lebih menyenangkan, kamu tahu maksudku kak?”
Aku tertawa dan menyahut, “Ya, aku rasa sulit untuk melakukan ciuman di depan orang lain” Janie mencubit tanganku sambil berbisik, “Ya, memang sulit untuk melakukan itu,” dia tersenyum dengan tanda tanya dan mencubit lenganku sekali lagi sebelum masuk pickup.

Ketika sampai di drive-in, ternyata tutup. Sebuah tanda terpampang di depanya yang menyatakan bahwa ada perbaikan listrik dan akan dibuka dua hari lagi.
“Well, apa yang harus kita lakukan sekarang?” kataku kecewa.
“Bagaimana dengan drive-in di pinggir kota? Sekitar 30 km dari sini dan kita bisa sampai disana tidak terlalu terlambat”
“Oh, aku nggak tahu Jan, yang kutahu disana memutar film untuk orang dewasa”
“Kenapa kamu pikir aku tidak ingin pergi?” kata Janie, “Aku juga ingin melihat film dewasa, dan ini kesempatan buat kita. Kita kan bisa berbohong tentang umur kita. Ayolah Rickie, jangan takut. Ajak aku nonton film sex”.

Akhirnya akupun sampai disana dalam waktu 25 menit. Disana sudah cukup gelap, dan kerena cukup gelap maka aku dan Janie bisa membeli ticket tanpa banyak pertanyaan. Kamipun membawa mobil ke dalam dan mengambil deretan paling belakang.
Ketika aku sedang menyetel speaker di jendela, Janie berseru, “Wah, lihat itu..”

Yang dimaksud Janie ‘itu’ adalah seorang gadis yang telanjang bulat dengan buah dada dan kemaluannya yang terpampang jelas. Dia dalam pelukan laki-laki yang hanya memakai sepotong celana pendek dan mereka mulai berciuman. Kamera menyoroti mulut mereka sehingga tampak jelas lidah mereka yang saling bersentuhan dan permainan yang merangsang lainnya. Akhirnya speaker bisa berbunyi sehingga kami bisa mendengar rintihan lembut si gadis ketika laki-laki itu menurunkan tangannya mengusap pinggul padat gadis itu. Setelah berciuman dan saling meraba, laki-laki itu mengangkat gadis itu masuk kamar.

Adegan berikutnya memperlihatkan laki-laki dan gadis itu di atas ranjang. Lelaki berada diatas tubuh gadis itu, pantatnya naik turun seperti sedang bersanggama. Suara desahan keduanya dari speaker memenuhi seluruh ruangan cabin pickup. Meskipun tidak bisa melihat bagian paling utamanya yang saling berhubungan, tapi tampak seperti melakukan adegan sex sungguhan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Beberapa menit kemudian keduanya berteriak cukup keras sebelum akhirnya terdiam. Sepanjang sepengetahuanku, mereka hanya melakukan acting, aku nggak yakin mereka benar-benar orgasme diatas ranjang itu.

Setelah itu adegan baru pasangan yang masih memakai pakaian lengkap. Tapi tidak lama kemudian, si laki-laki melepaskan baju dan bra si gadis dan meraba dan memilin puting si gadis. Dia melepaskan rok dan dijatuhkan kelantai. Si gadis melepas sabuk dan menurunkan celana laki-laki itu. Kemudian mereka saling meraba. Si lelaki menurunkan celana dalam si gadis sampai melewati kakinya. Sekarang si gadis dalam keadaan telanjang bulat sehingga buah dada dan kemaluannya terpampang semuanya. Si gadis pun segera menarik lelaki itu ke atas tubuhnya. Dan adegan senggama seperti tadi pun segera terjadi lagi.

Hanya suara merangsang yang mereka buat, tidak banyak melakukan gerakan panas, tapi membuatku benar-benar terangsang dan kemaluanku tegang dan membesar, memenuhi semua ruangan bagian depan jeanku. Napasku jadi berat dan tanganku kuletakkan diatas kemaluanku untuk mengurangi ketegangan yang terjadi. Ujung mataku menangkap bahwa film tersebut memberikan pengaruh yang sama terhadap Janie. Pinggul adikku tampak bergerak-gerak dan nafasnya berat seperti aku. Janie menggeser duduknya mendekatiku dan memeluk tanganku. “Film ini seperti sesungguhnya, ya khan?” bisiknya.
“Ya, benar”
“Menurutmu apa mereka benar-benar melakukan itu? Cara mereka saling menekan vagina tidak kelihatan bagian itunya, tapi seperti dia benar-benar melakukan itu ke si gadis, benar kan?”
“Mereka mungkin hanya ber-acting, tapi benar-benar seperti sungguhan”

Janie berbisik, “Wah, aku belum pernah melihat yang seperti ini. Sayangnya hanya sigadis yang kelihatan semuanya, tapi si lelaki tidak pernah kelihatan. Kamu dapat melihat bagian yang kamu inginkan tapi aku tidak.”

Kami berdua kemudian melihat ke film tanpa mengatakan apa-apa, hanya suara desahan yang datang dari speaker dan nafas kami yang semakin panas. Janie tetap duduk merapat tubuhku, tangannya memeluk bagian atas tanganku. Batang kemaluankupun semakin mengeras dan menekan jeanku sampai terasa sakit, aku hampir tidak tahan lagi. Janie pasti juga merasakan hal yang sama, karena dia meletakkan tangan satunya kebawah, ke dalam antara pahanya, pinggilnya juga bergerak-gerak.

Janie memandang ke arahku dan berbisik, “Apakah melihat film seperti ini mempengaruhi kamu? Apa kamu terangsang?”
“Oh, ya pasti.. Bagaimana kamu?”

Janie mengiyakan, “Ya, aku juga begitu. Melihat mereka aku benar-benar terangsang,”
Janie meletakkan tangannya diatas pahaku dan mencondongkan wajahnya sehingga bibirnya berbisik di depan telingaku.

“Apa yang terjadi kalau kamu terangsang? apa kamu ereksi seperti yang tertulis di buku sex-ed?”
Sentuhan Janie bagaikan listrik. Menjadikan kemaluanku semakin keras, sehingga semakin menekan keluar celanaku, sepertinya tidak pernah aku merasakan sebelumnya. Sambil mengatur nafasku aku menjawab, “Ya, aku hard-on”

“Kamu sedang tegang sekarang,” bisiknya. Tanpa menunggu jawaban, tangannya digerakkan ke atas menyusuri pahaku sampai tepat diatas batang kemaluanku. Dia mengusap-usap batang penisku yang tegang itu, “Wah, Rickie! Seluruh bagian depan celanamu menonjol keluar”
Sambil mengusap-usap, dia berkata,
“Apa yang kamu kerjakan kalau seperti ini?”
“Mmm, aku.. Aku melakukan sesuatu. Kalau kamu sendiri, apa yang kamu lakukan?”

Janie tertawa pelan dan menjawab, “Aku menggunakan tanganku untuk melepaskannya. Bagaimana kamu melakukan itu?”
Akupun tertawa sambil menjawab, “Aku beat off juga”

Sambil mempelajari wajahku Janie bertanya lagi, “Apa kamu menginginkan beat off sekarang”
“Ohh ya, aku hampir nggak tahan lagi. Bagaimana kamu?”
“Dalam waktu yang singkat” bisik Janie. “Apakah sebaiknya kita..?”
“Mungkin sebaliknya kita melakukan disini, di depan kita masing-masing?” kataku meneruskan kata-katanya.
“Yah, aku juga ingin mengatakan begitu” kata Janie gugup.
“Kita mungkin akan lebih menikmati film jika kita melakukan itu, ayo kita lakukan”

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi, Janie segera melepas kancing jeans dan menurunkan kebawah sampai lutut. Samar-samar aku dapat melihat celana dalamnya diturunkan sampai kebawah lututnya. Kemudian dia membuka pahanya dan segera tangannya dimasukkan diantara pahanya, sekilas aku lihat ada bayangan gelap disana. Janie segera menggerakan tangan pelahan-lahan desahan kenikmatan keluar dari bibirnya.

Melihat apa yang dilakukan Janie membuatku semakin terangsang melebihi yang pernah aku rasakan. Segera aku turunkan jean dan celana dalamku kebawah lutut seperti yang dilakukan Janie. Batang kemaluankupun mencuat berdiri tegak, membentur roda kemudi. Janie pasti melihat keadaanku, seperti apa yang kulakukan kepadanya.

Janie setengah memekik melototi batang penisku, “Wah, Rickie, penismu sangat besar dan keras. Aku nggak mengira anak laki-laki mempunyai sebesar itu. Itu pasti panjangnya 7 atau 8 inci”

Aku nggak pernah meperhatikan tentang seberapa besar penisku. Aku juga nggak pernah membandingkan ukurannya dengan pemuda lainnya. Aku nggak ngerti apa yang harus kukatakan kepada Janie kecuali, “Ya, mungkin kamu benar”.

“Aku belum pernah melihat penis laki-laki sebelumnya. Aku perlu cahaya yang lebih terang untuk bisa melihatnya lebih jelas. Boleh aku pegang?”.
Dipegang Janie? Wah, aku sering membayangkan seorang gadis memegang dan mengelus penisku, dan sekarang disini ada yang menawarkan untuk melakukannya. Akhirnya akupun berbisik, “Ya, bila kamu juga menginginkannya”

Janie segera meraih dan menggenggam batang penisku kemudian menggerakkan tangannya naik turun. Perasaan nikmat menggetarkan seluruh tubuhku, secara reflek mulutku mendesah dan pinggulku ikut terangkat-angkat. Janie segera menarik kembali tangannya, “Apa kamu merasa sakit?” tanyanya khawatir.

“Tidak,” kataku tergagap-gagap, “Aku merasa lebih nikmat bila orang lain menyentuhnya, aku nggak bisa menahan kenikmatan ini”
Janie pun segera menggenggam kembali penisku, meremasnya dengan lembut.
“Kalau kau merasa lebih nikmat bila aku yang melakukan, beritahukan aku caranya, apa yang sebaiknya kulakukan”.
“Genggamlah dengan lembut kemudian gerakkan tanganmu naik turun seperti tadi, itu saja. “

Beberapa saat kemudian Janie menghentikan gerakannya, kemudian berbisik,
“Rickie, kau mau menyentuhku seperti aku melakukannya untukmu. Dengan begitu kita bisa saling memberi dan mengeluarkannya sama-sama. Ayolah, kamu maukan melakukan seperti yang kulakukan?”.

“Ya tentu saja” kataku cepat, “Aku sangat menyukainya. Aku nggak pernah menyentuh seorang gadis sebelumnya, kamu ajari juga aku, apa yang sebaiknya kulakukan”

Janie memegang tanganku dan membimbingnya ke bagian diantara pahanya. Aku merasakan adanya rambut halus disana dan bibir tebal yang basah. Jari-jariku menelusuri celah diantara bibir-bibir tersebut, aku menemukan kemaluan Janie sangat basah dan hangat pula. Kugerakkan jari-jariku naik-turun menyusuri lembah basah tersebut dan kutemukan tonjolan kecil dibagian atas. Pinggul Janie terjungkit ketika jariku menyentuh tonjolan itu, dan dia meremas lenganku sambil berbisik,

“Ya, tepat dibagian itu. Ada tonjolan? itu tempat yang paling nikmat. Sentuhlah bagian itu sesering mungkin”.
Aku pun menggerakkan jari-jariku naik-turun di lembah basah tersebut, bergerak dari atas kebawah dan setiap kali kutekan-tekan tonjolan di bagian atas vagina Janie.

Janie mendesah-desah, “Uuumm.. Yaa.. Terruuss” dan pinggulnya pun ikut bergerak-gerak kedepan seirama dengan gerakan tanganku. “Ya.. Ya.. Ohh” desisnya pelan, “Terus lakukan seperti itu, aku merasa horni, jangan dilepaskan”.

Aku hampir nggak percaya Janie berkata seperti itu. Tadi dia mengatakan belum pernah melihat penis sebelumnya, meyakinkan aku bahwa dia masih perawan, dia kelihatannya sudah tahu cukup banyak dan tertarik mengenai sex seperti juga aku. Reaksinya atas sentuhanku dan kenikmatan yang dirasakannya paling tidak mirip seperti yang kualami.

Sambil menikmati aktivitas kanganku, Janie kembali memperhatikan batang kemaluanku dan kembali tangannya digerakkan seperti tadi. Aku juga tidak bisa mengendalikan gerakan pinggulku, yang bereaksi seirama dengan gerakan tangannya yang naik-turun di batang penisku.

Kami juga memperhatikan layar film, dimana gerakan pinggul pemuda yang sedang mengerjain si gadis makin lama semakin cepat, suara desahan dari speaker pun semakin keras, keadaan itu semakin mengobarkan gairah aku dan Janie. Kami berdua semakin mempercepat gerakan kami, seolah berlomba dengan gerakan yang ada dilayar film, untuk mencapai puncak orgasme kami.

Akhirnya Janie lebih dulu mencapai uncak orgasmenya. Wajahnya menengadah kebelakang sambil mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi kedepan dan pahanya menjepit tanganku erat-erat. Seluruh tubuhnya menggigil dan bergerak-gerak dengan cepat. Janie mendesah pelan,
“Ooohh, yaahh! Wah, oohh,” desahannya semakin pelan dan pelan, akhirnya terdiam lemas, dengan nafas tersegal-segal. Matanya terbuka dan memandangku sayu sambil berbisik lembut,
“Wah, aku tidak pernah bisa mengalami ‘keluar’ seperti ini sebelumnya”
Dia menggenggam batang penisku sambil berbisik, “Kamu sudah selesai juga?”.
“Belum,” kataku, “belum, aku hampir sampai kesana. Teruskan seperti tadi”

Janie pun kembali mengocok batang kemaluanku, tangannya digerakkan naik-turun. Waktu melihat Janie mengalami orgasme aku hampir ikut keluar juga, batang penisku sekarang berwarna semakin kemerah-merahan.

Sambil meneruskan gerakan tangannya Janie berkata, “Bagian ujungnya sudah basah, kamu yakin belum keluar?”
“Belum” desisku, “Teruskan beberapa saat lagi, aku hampir sampai. Kamu akan lihat kalau aku sampai”.

Beberapa adegan dilayar film telah berlalu, si laki-laki telah meninggalkan si gadis yang masih terlentang di ranjang dengan pahanya yang terbuka lebar-lebar. Vagina si gadis tampak terbuka lebar sehingga terlihat bagian berwarna pink yang basah diantara bibir vaginanya. Aku membayangkan aku baru saja menjelajahi liang kenikmatan tersebut dan memenuhinya dengan spermaku.

Gabungan imajinasiku dengan gerakan tangan Janie pada batang kemaluanku yang menimbulkan kenikmatan birahi yang teramat sulit kugambarkan mengantarkan aku kepuncak kenikmatan. Kuangkat pinggulku tinggi-tinggi ketika dari ujung batang penisku menyemburkan sperma kuat-kuat keudara dan jatuh ke dashboard, kemudian disusul dengan semburan berikutnya dan berikutnya. Sampai tidak bisa lagi menyembur keudara, kecuali meleleh membasahi tangan Janie. Dan Janie pun masih meneruskan gerakannya meskipun tangannya telah basah kuyup oleh lendir spermaku. Mulutku mengerang-erang setiap kali spermaku tersembur keluar.. Dan kemudian tertunduk lemas. Tapi batang kemaluanku masih tetap mengeras meskipun sudah tidak bisa mengeluarkan sperma lagi.

Tangan Janie kuraih untuk menghentikan gerakannya, tapi dia masih terus menggenggam erat-erat batang penisku sambil menggerakannya pelan-pelan dan lembut sekali. Akupun berbisik lagi, “Kalau kau tidak menghentikan gerakanmu, aku bisa keluar lagi”.
Mata Janie melotot seolah hampir keluar melihat batang penisku menyemburkan sperma, “Wah, kamu bisa lagi? Aku benar-benar tidak membayangkan seperti itu kejadiannya. Aku tahu dari buku sex-ed bahwa sperma akan keluar dari penis laki-laki pada saat climax, tapi kamu telah menyemburkannya begitu banyak, begitu kuat semburannya, aku tidak bisa membayangkannya”.

“Ya, itu lebih banyak dari yang pernah aku alami sebelumnya. Karena sambil menyentuhmu aku jadi begitu terangsang sehingga keluar beberapa kali”.
“Kamu senang menyentuhku?” bisik Janie.
“Ohh, pasti. Apa kamu juga suka aku menyentuhku?”

Tangan Janie mengusap-usap batang penisku sambil berbisik, “Ya, ya aku sangat menyukainya. Aku sudah lama menunggu seorang pemuda menyentuhku, dan akhirnya hal itu terjadi”.

Gerakan tangan Janie di batang penisku menimbulkan perasaan semakin nikmat lagi, aku tahu bahwa dashboard mobil ini akan tersiram lagi oleh semburan spermaku. Tangankupun kuturunkan meraba vaginanya. “Kamu mau lagi Janie?” bisikku lembut.

Janie meraih leherku dan mendekatkan kewajahnya. Dia menempelkan bibirnya kebibirku dan mengesek-gesekan pelahan.
“Ya,” bisiknya, “Aku menginginkannya lagi, dan kemudian lagi, terus dan terus sampai kita tidak mampu melakukannya lagi. Tapi aku juga ingin bisa melihat dengan jelas apa yang kukerjakan. Aku ingin bisa melihat penismu, bisa melihatnya dalam keadaan terang, tidak gelap seperti di mobil ini.”

Dia kembali menyapukan bibirnya lagi, ciuman kecil yang membuat penisku semakin mengeras, dan ujarnya, “Tidak ada orang dirumah, Rickie. Semuanya terserah kita. Kita bisa melepas semua pakaian kita dan kita bisa saling melihat semuanya, saling meraba. Kita memiliki seluruh weekend sendirian, dan kita dapat melakukan apapun yang kita inginkan. Aku benar-benar akan melakukan seperti aku adalah istrimu”.

Aku ingat komentar Janie sebelumnya tentang menjadi istriku dan senyuman aneh yang tersirat diwajahnya ketika Janie mengatakan itu. Ini adalah penjelasan singkat dari pernyataannya, dan aku sangat berharap mendapatkan janjinya itu. Tanganku meraih kebawah jok mengambil kotak tissue untuk membersihkan tubuh dan bagian mobil disekitar kami. Semua bekas hubungan intim kami telah bersih sama sekali, kecuali aroma khas dari yang mengundang birahi memenuhi ruang cabin.

Janie duduk merapat ketubuhku ketika kami pulang kerumah, tangannya diletakkan diantara pahaku, sambil mengusap-usap lembut tonjolan kemaluanku. Aku juga ingin menyentuhnya tapi kedua tanganku harus sibuk memegang steer. Aku pun berusaha secepat mungkin kembali kerumah. Sebelum melewati pompa bensin tiba-tiba Janie berseru, “Rickie, stop disini. Aku kebelet kencing sekali”.

Akupun menghentikan kendaraan dan Janie menuju ke toilet wanita. Aku senang dia minta berhenti disini karena aku juga memerlukan sesuatu. Ketika masuk toilet, aku lihat mesin penjual condom didinding. Kupikir aku dan Janie mungkin akan membutuhkannya, akupun segera mengambil empat buah. Aku perlu mempersiapkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi.

Janie pun segera keluar dari kamar wanita begitu aku kembali ke mobil. Sambil tersenyum lebar aku menyapa, “Sudah merasa baikan?”.
Kembali Janie merapat ketubuhku sambil kepalanya disandarkan kepundakku, dan tangannyapun diletakkan diantara pahaku. “Yah, semuanya terkendali” katanya. “Sekarang bawa aku pulang secepatnya, Aku akan melanjutkan kencan pertamaku”.

Aku memang ingin segera sampai kerumah. Kalau mobil ini bisa terbang, sudah kuterbangkan sejak tadi. Tapi dengan tangan Janie diatas kemaluanku sambil membelai-belai dari luar jeanku, menjadikan aku sulit berkonsentrasi untuk mengemudi.

Usapan-usapannya membangkitkan gairahku dan sepertinya berlomba siapa yang lebih cepat sampai, orgasmeku atau mobilku sampai rumah. Aku bayangkan apa yang terjadi sesampainya kita dirumah. Janie telah demikian fulgar menyatakan keinginannya, untuk telanjang bulat dibawah sinar lampu yang terang sehingga kami bisa saling melihat dan menyentuh tubuh kami. Dia sangat senang ketika jari-jari tanganku membuatnya orgasme dan dia ingin segera pulang agar kami bisa segera melanjutkan kencan kami sampai sepuas-puasnya. Dengan tidak adanya orang tua kami dirumah, kami bebas untuk melakukan apa saja yang kami inginkan. Akupun ingin mencapai orgasme lagi, lagi dan lagi sepanjang malam.

Dengan membayangkan adikku Janie telanjang bulat membuatku sangat bergairah. Aku ingat bayangan rambut kemaluannya dikegelapan drive-in, dan ingin bisa melihat jelas rambut keriting dan bibir vagina yang telah aku jelajahi dengan jari-jariku. Aku belum pernah melihat gadis telanjang sebelumnya dan tanpa sadar nafaskupun jadi semakin memburu.

Aku benar-benar telah meraba vagina Janie tapi belum pernah menyentuh buah dadanya. Aku tahu dia mempunyai buah dada yang sangat indah dan aku jadi tidak sabar untuk bisa melihatnya tanpa terhalang apa-apa. Aku bayangkan seperti apa bentuk puting buah dadanya dan bagaimana rasanya kalau kukulum dengan bibirku, kuhisap dan kupilin-pilin. Imajinasiku membuat penisku semakin menonjol keluar celana jeanku. Aku segera memegang tangan Janie untuk menghentikan gerakannya.

“Ohh, Jan..” desahku, “Aku hampir keluar. Bila kau teruskan sedikit lagi, celanaku akan segera dipenuhi oleh cairan spermaku”. Janie segera menghentikan gerakannya dan menarik tangannya dari celah pahaku.

“Maaf Rickie. Aku benar-benar nggak paham reaksi laki-laki dan aku hanya bermaksud untuk meyakinkan bahwa kamu masih panas dan tegang sesampainya di rumah. Aku sangat menyukai menyentuhmu dalam keadaan tegang seperti ini, tapi tentunya aku tidak ingin kamu keluar sekarang. Aku ingin menunggu sampai sampai kita tiba dirumah, membelainya dengan tanganku dan melihatnya dengan jelas ketika penismu memancarkan sperma. Aku sangat menyukai melihat penismu menyemprotkan sperma dan membasahi semuanya disekitar tanganku, dan aku ingin melihat kamu keluar lagi, lagi dan lagi.. “

“Jangan khawatir dengan keteganganku. Hanya dengan membayangkan tubuh imutmu ini telanjang sudah bisa membuat penisku tegang sekali. Ini merupakan pengalamanku yang pertama melihat seorang gadis telanjang, dan aku tak sabar menunggu untuk menelanjangimu dan menyentuh seluruh tubuhmu”.
Tangan Janie memegang erat pahaku sambil berbisik,

“Ya, aku paham yang kamu maksud. Hanya membayangkan yang kau katakan membuat celanaku jadi basah. Aku sudah basah dari tadi, tapi sekarang benar-benar tambah basah”.
Janie menempelkan bibirnya kepipiku dan menciumnya dengan mesra.
“Rickie, jangan tunda-tunda lagi, bawa kita segera pulang kerumah secepat yang kamu bisa lakukan. Aku benar-benar ingin kau segera menyentuhku, dan aku baru saja keluar lagi gara-gara membayangkan itu”

“Jangan sampai keluar lagi Jan..,” kataku khawatir, “Tunggulah sampai kita tiba dirumah, aku ingin membuatmu keluar”.
Janie segera tersenyum dan membelai pahaku.

“Jangan khawatir. Aku bisa keluar dan keluar lagi setiap saat. Suatu ketika kalau aku melakukan sendiri, aku bisa melakukan berkali-kali sepanjang yang aku inginkan”

Akhirnya kami sampai dirumah. Kami segera keluar mobil sambil berpelukan, tangan Janie memeluk tubuhku erat-erat sehingga pinggul kami saling mergesekan. Sesampainya di depan pintu Janie berputar menghadapku dan berkata,

“Terimakasih atas malam indah ini, kau benar-benar memberikan kencan yang sangat menakjubkan. Berikan aku ciuman selamat malam”
Pertama-tama aku tidak tahu apa yang dia inginkan, tapi kemudia memahami ketika dia membawaku melanjutkan permainan kami tentang kencannya, kencannya yang pertama dengan seorang pemuda. Meskipun dia adalah adikku, bibirnya yang menantang mendorongku segera memutuskan untuk berperan aktif dalam melanjutkan fantasi permainannya. Aku tidak paham kelanjutan permainannya tapi aku tahu dia begitu bergairah seperti juga aku dan apapun yang akan terjadi kami akan sama-sama menginginkannya.

Kubuka tanganku dan kuraih tubuhnya sehingga seluruh tubuh kami bersentuhan penuh. Kuturunkan bibirku ke arahnya, kurasakan buah dadanya yang padat menekan dadaku dan bagian kemaluannya bergesekan dengan batang penisku. Ketika bibir kami bersentuhan, tangannya memelukku dan menariknya lebih merapat, kemaluannya digesek-gesekkan dengan gerakan memutar. Janie mendesah lembut. Ketika bibir kami saling bertautan, aku benar-benar lupa bahwa yang sedang aku peluk adalah adikku. Dia kuanggap sebagai seorang gadis sexy yang sangat menggairahkan.

Rickie berusaha menyusupkan bibirnya ke dalam mulut Janie, dan Janie pun membuka mulutnya sehingga bisa menjelajahi bagian dalam mulut Janie. Dan Rickie mengerang ketika tiba-tiba lidahnya dihisap Janie. Rickie pun kemudian ganti menghisap lidah Janie, kemudia mereka saling menghisap dan mendesah. Kedia tangan remaja itupun tidak tinggal diam, tangan Janie meraba dan meremasi pantat Rickie sambil menekan-nekan sehingga batang penis Rickie bergesekan dan menekan lebih kuat ke panggal paha Janie.

Tiba-tiba Janie mengerang dan tubuhnya mengejang. Tangannya memeluk dan menarik tubuh Rickie kuat-kuat..
“Ooohh.. Wah.. Aaahh”

Rickie terkejut, hampir tidak percaya bahwa Janie bisa orgasme hanya karena ciuman dan pelukan saja. Gadis ini sepertinya demikian menghayati perannya dalam permainan ini. Beberapa saat kemudian tubuh Janie pun kembali relax. Matanya terbuka dan memandang wajah pemuda itu dengan terbinar-binar, sorot matanya menyiratkan cinta kasih dan kerinduan yang teramat mendalam.

“Orang tuaku sedang pergi weekend dan saya sendirian dirumah. Maukan kamu masuk ke dalam, dan melanjutkan lagi permainan kita?”.
“Ya” jawabku cepat, “aku ingin melanjutkan lagi dan lagi.. “

“Aku juga” kata Janie sambil menggandeng tanganku, sambil tangan lainnya membuka pintu. Setelah aku masuk Janie segera menguncinya kembali. Dia segera menyalakan lampu, sehingga disekitar kami menjadi terang benderang. Janie segera memelukku kembali dan menciumi seluruh wajahku.. Dengan penuh gairah dia ciumi bibirku sehingga kembali kami berciuman dengan panas.
“Kamu menyukai tubuhku?” bisik Janie.
“Wah.. Aku sangat menyukainya” kataku cepat.
“Kamu ingin melihatnya lebih dari tadi?”
“Ya. Aku ingin melihat semuanya. Aku ingin melepaskan semua bajumu sampai engkau telanjang bulat, sehingga aku dapat melihat jelas setiap bagian dari tubuhmu”

Janie tersenyum manis dan mendekat ke arahku, “Bukalah semua pakaianku, telanjangi aku”.

Aku tidak tahu lagi apakah ini merupakan bagian dari fantasi Janie atau memang gadis ini ingin menunjukan kepadaku keadaan nyata tubuhnya. Aku pikir itu merupakan kombinasi keduanya. Apapan juga aku menginginkannya. Dan pelahan-lahan kuangkat kausnya melewati wajahnya dan kujatuhkan kelantai.
Janie kembali berkata, “Buka bra-ku, kau akan bisa melihat buah dadaku”

Kubuka kaitan bra Janie, kuangkat melewati pundaknya dan kujatuhkan pula dilantai disamping kausnya. Segera kuraih tubuh Janie, kepeluk dari melakang dan buah dadanya yang kencang padat itupun sudah ada dalam genggamanku.. Puttingnya semakin tegang dan mengeras, menusuk telapak tanganku. Kubelai-belai puting itu dengan lembut penuh perasaan, kupilin-pilin dan kujepit lembut dengan jari-jari tanganku.. Janie mengerang dan mendesah kenikmatan, tubuhnya disandarkan ketubuhku.

Sambil tangan kiriku membelai-belai sepasang bukit indah di dada Janie, tanganku merayap kebawah.. Menelusuri kehalusan kulit perutnya, dan terus menyusup kecelah diantara pahanya, dan vagina perawan adikku ini pun sudah berada dalam tanganku. Janie mendesah agak teras dan tubuhnya kembali mengejang,

“Ohh.. Aku keluar lagi, cepat kau selesaikan tugasmu.. Buka dulu seluruh pakaianku.. Aku ingin merasakan kulit tanganmu meraba vaginaku secara langsung”

Kutemukan dan kubuka kaitan jeannya, kuturunkan resletingnya, dan sambil berjongkok pelahan-lahan kuturunkan jeannya kebawah melewati pinggul, lututnya dan kulepas sama sekali melewati kakinya. Sepatunya pun segera kulepas juga, kemudian kubalikan tubuhnya sehingga wajahku tetap di depan secarik kain segitiga yang tinggal menutupi bagian paling pribadi adikku ini.

Aroma khas dari celana dalam Janie yang basah itupun segera tercium olehku, aroma yang segar dari cairan gadis perawan. Batang kemaluankupun terasa menegang dan memberontak didalam celanaku. Janie segera mengangkat kausku melewati kepalaku.
“Sekarang turunkan dan lepas celanaku agar kemaluanku telanjang”

Tanganku agar bergetar ketika pelahan-lahan kuturunkan celana dalam Janie. Senti demi centi kuturunkan kain putih itu melewati pinggulnya, dan bulu-bulu yang halus dan rapi tampak di depan mataku, dan akhirnya bentuk vagina kecil Janie tampak jelas.. Bibir putih tebal dengan lipatan yang masih rapat.. Tonjolan kecil mencuat.. Jantungku terasa berdetak semakin cepat seiring dengan nafasku yang mulai memburu..
“Ooohh Wah, seperti inikah bentuk vagina seorang gadis? demikian menakjubkan.. “
Entah berapa lama aku terbengong-bengong melihat bentuk vagina perawan ini, sampai kemudian aku tersadar ketika Janie berkata lembut,
“Kau menyukai kemaluanku?”
“Ya.. Ya. Ooohh, aku sangat menyukainya. Sangat indah sekali Jan…”
“Kamu suka menciumnya?”
Wah, aku hampir nggak percaya mendengar permintaan Janie. Adik kecilku yang manis, yang selama ini kuanggap demikian suci dan lugu tentang sex, menyuruhku untuk mencium kemaluannya.. Aku yakin sebelumnya dia telah melakukan diskusi yang sangat sexy dengan gadis lain tentang masalah sex, sampai membicarakan juga tentang mencium vagina. Tapi apapun juga, aku juga mengakui bahwa aku juga berfantasi melakukan itu, sebagai bagian paling sensual dari hubungan intim laki-laki dan wanita.

Aku memandang Janie sambil berkata, “Kau menginginkan aku mencium vaginamu?”
“Ya, bila kamu juga menginginkannya,” kata Janie lembut.
“Aku pernah dengar seorang gadis mengatakan betapa nikmatnya dicium vaginanya. Jari-jarimu demikian nikmat menyentuh clitorisku, dan aku yakin bibirmu akan jauh lebih nikmat lagi”

Katanya lebih lanjut sambil mengusap-usap rambutku, dan dengan suaranya yang lembut dan manis Janie berkata lagi, “Tolonglah Rickie, aku ingin merasakan sesuatu yang tidak mungkin bisa kulakukan sendiri, ayolah Rickie lakukan buatku”.
“Kau ingin aku melakukan sekarang?”
“Ya sekarang.. Oohh.. Aku hampir mati menunggunya. Mempertontonkan tubuhku yang telanjang telah membuatku begitu gairah. Rasanya aku hampir keluar lagi, aku yakin ini akan merupakan orgasme yang paling nikmat yang pernah aku alami selama ini”

Akupun berdiri dambil tanganku kuturunkan kebawah dan meletakkannya di bagian cembung di pangkal paha Janie. Pelahan-lahan kususupkan jari tengahku diantara bibir vagina Janie yang tebal itu, kurasakan kebasahan disana. Aku pernah dengar dari temanku mengatakan sedapnya rasa cairan lendir pacarnya dan sekarang akupun punya kesempatan untuk menikmatinya. Aku yakin lendir Janie pasti lebih nikmat dari pada milik gadis-gadis lainnya. Akupun berbisik,

“Aku sudah lama memimpikan untuk mencium dan merasakan nikmatnya vagina seorang gadis, Janie”.
“Wah,” desah Janie, bayangan kenikmatan memenuhi wajah Janie, “Cepat, mari kita segera kekamarku, kita gunakan ranjangku saja.”

Janie pun segera lari menuju kamarnya dan akupun mengikuti dibelakangnya. Hatikupun bergetar sambil menelan ludah melihat gerakan pinggulnya yang bulat padat waktu bergerak. Janie tampak seksi sekali. Kuingin segera meraih pinggul seksi itu sambil menciumi vaginanya. Janie segera menyalakan lampu kamarnya dan rebah terlentang diatas ranjang, pahanya dibuka lebar-lebar sehingga calah-celah vaginanya terpapar dengan jelas.
“Sebaiknya posisiku seperti apa?” tanya Janie.

Aku pun tersenyum, “Well, ini seperti orang buta lawan orang buta. Aku juga belum pernah melakukannya, tapi OK, kita bisa sama-sama belajar”.
Akupun berlutut dilantai, kuraih paha Janie dan kutarik sehingga kedua kakinya kini menggantung kelantai. Kuraih bantal dan kususupkan dibawah pinggul Janie. Sekarang vaginanya jadi menondol dan terpampang semakin jelas di depan wajahku. Dengan kedua ibu jariku kubilak bibir vaginanya sehingga liang vagina Janie tampak jelas sekali, seluruh permukaan lembahnya berwarna merah muda tapi dan lubangnya tampak masih sempit sekali, cuma sebesar ujung jari kelingkingku. Hidungkupun segera mencium aroma segar yang khas. Jantungkupun berdetak semakin keras melihat pemandangan indah itu.

“Wow Janie, indah sekali bentuk vaginamu ini.. Jauh lebih indah dari yang pernah kubayangkan.. “
Bibirkupun segera menciumi seluruh lembah vagina Janie, dari bawah ke atas, dan ternyata cukup sedap baunya. Lidahku kujulurkan dan kutekan ke dalam liang kecil itu, sambil hidungku aku tekan-tekankan ke clitoris Janie berupa tonjolan kecil diujung bagian atas lembah tersebut. Aku benar-benar sangat bergairah menciumi bagian paling rahasia Janie yang selama ini selalu disembunyikan rapat-rapat.

Janie seperti tersengat listrik ketika bibirku menciumi vaginanya.. Seluruh tubuhnya bergetar sambil pinggulnya terjungkit-jungkit.
Sambil menyandarkan tubuhku, lidahku kujulurkan, kemudian menyapu daerah tersebut naik-turun sepanjang jalur celah vaginanya, sehingga aku bisa mencicipi kelezatan cairan kewanitaannya yang ternyata cukup nikmat dan akupun juga menyukai aromanya pula. Demikian pula sentuhan lidahku dengan celah vaginanya menimbulkan sensasi yang sulit digambarkan. Sepertinya aku juga dapat merasakan sensasi-sensasi yang dirasakan Janie. Dan yang pasti sejak itu dan seterusnya aku sangat senang untuk melakukan perbuatan seperti ini lagi.

Kemudian kususupkan tanganku ke bawah pinggulnya dan mengangkatnya lebih tinggi, sehingga aku lebih mudah menjilat dan menjelajahi seluruh lorong-lorong celah vagina Janie. Dan Janie pun ikut membantu dengan membuka pahanya lebih lebar sehingga mempermudah usahaku.

----------

Kali ini ganti clitorisnya kukerjain. Tonjolan daging kecil yang mencuat di bagian atas celah vagina Janie itu sepertinya semakin membengkak dan mengeras. Pinggul Janie bergetar dan merintih ketika clitorisnya kuhisap-hisap,
“Ooohh Rickie, oohh enak sekali, aduuhh, Wah, nikmat sekali. “

Aku tahu, bila ini dilanjutkan Janie akan mencapai climax lagi. Aku tidak menginginkannya seperti itu, aku ingin membangkitkan gairahnya pelahan-lahan sampai kemudian mencapai climaknya dalam waktu yang cukup lama sehingga Janie akan berkesempatan menikmati proses kenikmatan yang lebih lama lagi dan juga akan memberikan tambahan kenangan manis buatnya, ketika kelak dia mengingat kembali saat-saat kencannya yang pertama.

Kemudian kulepas clitorisnya, kuturunkan bibirku, kali ini liang vaginanya kujadikan sasaran. Kutekan-tekan lubang kecil itu dengan ujung lidahku. Kujulurkan lidahku lebih panjang dan kumasukkan ujung lidahku ke lubang kecil itu. Kuusahakan agar ujung lidahku masuk sejauh mungkin yang bisa dijangkau. Kutarik dan kumasukkan lagi berulang-ulang. Kurasakan cairan vagina Janie keluar semakin banyak dari lubang itu. Sementara pinggul Janie ikut bergerak-gerak naik-turun mengikuti gerakanku. Janie merasakan sensasi kenikmatan yang lain lagi, tapi ternyata tidak kalah nikmat dari yang tadi sewaktu clitorisnya kukerjai.

“Yes, yes, yes, oohh terus, teruuss, oohh, ” erang Janie dengan suara semakin keras. Untunglah rumah kami tidak mempunyai tetangga sehingga aku tak perlu khawatir suara Janie terdengar orang lain.

Gerakan pinggul Janie semakin cepat seiring dengan rintihannya yang semakin nyaring, sehingga aku tahu bahwa Janie sudah semakin dekat mencapai puncak orgasme yang lebih besar dari sebelumnya.

Aku segera mengubah sasaranku lagi, kini clitorisnya kuhisap-hisap kembali dan ujung jariku kumasukkan liang vaginanya menggantikan posisi lidahku. Janie melengkuh dengan suara berat ketika ujung jariku tenggelam keliang vaginanya lebih dalam dari apa yang bisa dicapai lidahku tadi, apalagi setelah ujung jariku kugerakkan keluar-masuk, pinggul Janie pun segera terangkat sampai melewati wajahku dan.. erangan keras segera keluar dari mulutnya,

“Ooohh!!, oohh, aku keluarr, oohh aku keluarr!!”
Aku bisa melihat ketika cairan kewanitaannya meleleh keluar dari liang vaginanya. Janie pun merintih dan menangis dengan perasaan nikmat luar biasa. Akupun kembali menciumi seluruh permukaan vaginanya sampai pelahan-lahan gerakan Janie semakin melemah, dan Janie segera menarik wajahku ke atas agar menghentikan gerakannku.

“Ohh, Tuhan. Stop sudah, sudah, ” desahnya.”Aku bisa mati kalau kau teruskan lagi.”

Aku tersenyum puas melihat Janie bisa mencapai orgasmenya yang dasyat itu. Nafas Janie masih terengah-engah seperti habis maraton. Sepasang bukit dadanya yang indah itu ikut turun naik mengikuti irama nafasnya. Sepasang bukit indah itu sekarang berwarna kemerahan dan mengkilat basah oleh keringatnya yang membasahi sekujur tubuhnya. Beberapa menit kemudian Janie membuka matanya dan tersenyum manis sekali ke arahku.

“Aduh, Rickie, aku tidak mampu lagi menggambarkan kenikmatan yang aku peroleh ini. Ini benar-benar jauh lebih dasyat dari apa yang diceritakan Lauren, bahkan jauh lebih nikmat dari apapun yang pernah aku banyangkan.”

Kemudian Janie mencium pipiku dengan sangat mesra sekali sambil berbisik, “Terimakasih, terimakasih untuk kencan pertamaku yang demikian indah ini.”
Kami kembali berpelukan dengan sangat mesra sekali. Dan kali ini kemaluanku yang sudah tegang sejak tadi menonjol keluar menekan celana jeansku dan menekan keras perut Janie sehingga gadis itu segera menyadari apa yang terjadi padaku.

Janie segera melepaskan pelukanku dan melihat ke arah pangkal pahaku, “Aduh, lihat keadaanmu ini.”

Janie segera merebahkan kepalanya kedadaku sambil mengusap tonjolan kemaluanku, “Maaf Rickie, aku terlalu bernafsu memikirkan diriku, aku nggak bisa mengendalikan gejolak yang ada pada diriku, sehingga aku sepenuhnya lupa kepada milikmu ini, tentunya kamu sudah terlalu lama kubiarkan menderita dalam ketegangan seperti ini.”

Janie segera melepaskan kancing jeansku dengan lemah lembut, “Mari kubantu melepaskan celanamu. Aku sudah tidak sabar lagi ingin melihat monster raksasa ini di tempat terang.”

Ketika Janie melepas celanaku, akupun segera melepas t-shirt-ku dan melemparkannya kelantai. Sekarang aku tinggal memakai celana dalam saja, sehingga kemaluanku semakin tampak menonjol keluar. Janie segera mengusap-usap tonjolan itu sambil berguman, “Sepertinya monstermu ini jadi lebih besar dari pada saat di bioskop tadi.”

Janie segera melepaskan kaus kaki dan sepatu, kemudian pelahan-lahan menurunkan celana dalamku. Akupun ikut membantu dengan mengangkat pinggulku, dan batang kemaluanku segera mencuat, berdiri tegak dan keras.

“Wah!” seru Janie, “Sangat besar dan keras.”

Tanpa melepaskan pandangannya ke arah batang kemaluanku, Janie segera melepaskan celana dalamku, sehingga kini aku telanjang bulat seperti juga Janie. Janie segera merebahkan tubuhnya diatas pahaku dan tangan kanannya meraih batang kemaluanku, sedang tangan kirinya dibawah bolaku.

“Rick, menurutmu kemaluanku indah sekali. Tapi saya kira kemaluanmu juga luar biasa indah.”

Tangan Janie menggenggam dan membelai batang kemaluanku dengan gerakan naik-turun, sehingga dari ujung kemaluanku meleleh setetes cairan spermaku awalku yang mengeluarkan aroma yang khas. Janie pun segera membungkukkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya menjilat cairan bening itu.
“Umm,” desahnya, “Rasanya nggak jelek juga. Sepertinya aku juga menyukainya.”

Janie pun segera mempercepat kocokannya sambil bertanya, “Kamu sudah hampir sampai Rick?”
“Sepertinya nggak terlalu jauh. Melihat tubuhnya yang telanjang seperti ini, mencicipi kelezatan cairan kewanitaanmu dan kamu elus-elus begitu, menjadikan aku sangat terangsang berat, dan sepertinya nggak terlalu lama lagi.”
“Boleh kuhisap sampai keluar?”
“Ya!” jawabku cepat, “Tapi kamu melakukan bukan karena aku telah melakukannya kepadamu kan?”
Janie tersenyum manis sambil berkata, “Tentu tidak, aku melakukannya karena memang aku menyukainya. Semenjak Lauren menceritakan kepadaku bahwa dia memasukkan batang kemaluan kemulutnya, aku menunggu kesempatan untuk merasakannya juga. Akhirnya akupun berkesempatan untuk menikmatinya”

Janie menggegam dasar batang penisku dan kemudian menundukan kepalanya dan lidahnya menjilat naik-turun sepanjang dari batang penisku itu. Tubuhku sampai gemetaran menahan rasa geli nikmat akibat sentuhan lidah dengan penisku itu. Apalagi bila ujung lidahnya menyentuh bagian lekukan dibawah topi bajaku yang merupakan daerah paling sensitif di penisku, pinggulku sampai terangkat-angkat menahan nikmat dan geli yang luar biasa.

Janie mengangkat wajahnya, memandangku sambil berbisik, “Kamu menyukainya bukan?”
“Ooohh, yeah. Aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini selama hidupku.”

Janie tersenyum manis, “Aku senang kau menyukainya. Aku ingin kau merasakan kenikmatan sebaik seperti yang kau berikan kepadaku.”
Sambil terus menggerakkan tangannya naik-turun, Janie berkata,

“Kalau kau menyukainya, aku sangat senang meneruskannya, aku sangat senang membuatmu bahagia.”
Kemudian kembali Janie menundukkan wajahnya dan melanjutkan jilatannya. Mulutnya dibuka dan seluruh bagian topi bajaku dikulumnya dan dihisapnya pelan-pelan.

“Aaahh, oohh,” desahku berulang-ulang. Aku benar-benar tidak mampu mengontrol gerakanku. Kenikmatan itu bagaikan aliran listrik, dengan cepat menyebar keseluruh tubuhku. Seperti terserang demam, tubuhku memgigil. Janie melepaskan kuluman penisku, kemudian mengangkat wajahnya sambil berkata,
“Bagaimana dengan yang barusan, lebih nikmat bukan?”
“Oh, Wah, ya ya! Aku tidak pernah merasakan yang senikmat ini sebelumnya.”

Dia tersenyum manis dan kembali mengulum penisku, kali ini dia masukkan penisku sepanjang 5 inchi ke dalam mulutnya. Kemudian digerakkan kepalanya naik-turun sambil tangannya juga mengocok batang penisku bagian bawak naik-turun juga. Aku benar-benar kagum akan kepiawaian Janie dalam menangani penisku, sebagai seorang gadis yang belum pernah melihat penis sebelumnya, Janie telah belajar dengan sangat cepat, hanya berdasarkan insting dan sedikit informasi dari teman-teman ceweknya.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku merasakan bahwa puncak orgasmeku akan segera sampai. Rasanya aku tidak mampu lagi mengendalikan gairah sexualku, pinggulku bergerak naik turun secara reflex mengikuti alunan gelombang kenikmatan yang datang bertubi-tubi. Mulutku mengerang dan mendesis tiada hentinya. Aku benar-benar hampir tidak percaya bahwa Janie mampu membuatku seperti ini.
“Ohh.. Janieeeee…, aku hampir keluar,” erangku, “Jika kamu teruskan seperti itu mulutmu akan penuh dengan spermaku.”

Tapi peringatanku malah membuat aksinya semakin bersemangat. Aku jadi ingat kata-katanya tadi bahwa ia ingin menghisapku sampai keluar, akhirnya aku cuman pasrah dengan tindakannya. Dan sesaat kemudian spermaku benar-benar meledak dimulutnya. Sepertinya Janie juga sudah siap dengan semburan itu, karena kulihat Janie langsung menelan sebagian besar spermaku, sedang sisanya meleleh keluar dari ujung bibirnya, membasahi tangannya. Sementara tangannya masih sibuk mengocok batang penisku sampai penisku tidak mampu lagi mengeluarkan sperma.

Pada saat mencapai puncak klimaksku, seluruh tubuhku terasa mengejang dan bergetar. Kupikir inilah klimaxku yang paling tinggi yang pernah kualami selama ini. Jauh lebih dasyat dan nikmat bila dibandingkan ketika aku melakukannya sendiri. Wah, ini benar-benar luar biasa. Sampai beberapa saat sepertinya aku tak sadarkan dan terkulai lemas..

Kesadaranku mulai kembali ketika kurasakan Janie menciumi seluruh wajahku. Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah keadaan penisku. Meskipun baru saja meledakkan sperma yang begitu dasyatnya seperti ledakan gunung berapi, dia masih tegak berdiri, hanya sedikit mengendor, aku yakin dengan kondisinya serperti ini, penisku masih mampu untuk menjebol keperawanan seorang gadis. Aku jadi tidak berani membayangkan, apa yang akan terjadi dengan kelanjutan kencan kami ini. Tapi aku berniat membiarkan Janie yang mengambil inisiatif selanjutnya. Apapun yang diinginkannya, aku akan mengikuti dan memenuhinya.

Janie berbaring disebelahku, kami saling tatap tanpa bicara. Wajahnya basah oleh keringat dan di ujung bibir dan pipinya masih tampak sisa spermaku. Meskipun tampak lelah tapi mata itu tampak berbinar-binar, berbunga-bunga dan penuh semangat. Janie-ku jadi tampak lebih cantik dari biasanya. Senyuman bibirnya seperti menyembunyikan suatu rahasia kepuasan dan kebanggaan.

Malam ini Janie benar-benar ingin memanjakanku dan juga mempertunjukan bahwa malam ini segala yang ada pada dirinya hanya diperuntukkan kepadaku. Dengan senyumannya yang teramat manis dan mesra, diraihnya leherku, rambutku dibelai-belai. Tangan satunya mengusap-usap dadaku. Kemudian pelahan-lahan tangan itu turun menyusuri perutku. Dengan penuh sensual tangannya digerakkan ke bawah, terus ke bawah, sampai menyentuh hutan belantara di pangkal pahaku. Dan batang peniskupun digenggamnya dengan lembut sekali. Senyumannya tampak semakin manis ketika merasakan bahwa batang penisku masih tegak mengeras.

Matanya berkedip-kedip manis sekali. Seingatku aku belum pernah melihat sebelumnya. Janie berbisik lembut, “Bagaimana kau bisa keras dan tegang seperti ini? Padahal baru saja orgasme? Apa yang membuatmu jadi seperti ini? Apakah aku sudah melakukannya dengan baik?”

Akupun tersenyum manis sambil berbisik, “Itu adalah klimaksku yang paling dasyat yang pernah kualami. Akupun juga heran bahwa penisku masih tetap tegang. Kupikir itu semua karena kamu. Kau memberikan kencan yang paling luarbiasa, dari yang diharapkan oleh semua pria.”
Janie tidak langsung merespon pujianku, dia hanya menatap mataku sambil tersenyum manis. Kemudian dia berkata pelan setengah berbisik, “Terima kasih. Kamu telah memberikan yang terbaik buat kencan, seperti yang diharapkan oleh semua gadis.” Kemudian kami berciuman dengan sangat mesra sekali.

Kali ini ciuman kami sangat sangat lembut dan mesra tanpa dibumbui gairah birahi. Sepertinya Janie ingin menunjukan betapa besar kasih sayangnya kepadaku. Tapi kemudian pelahan-lahan permainan kami semakin memanas kembali. Gesekan-segesan kulit tubuh kami yang telanjang bulat membuat kami tidak bisa mengendalikan emosi gairah sexual kami.

Janie tersenyum dan berbisik, “Sebenarnya aku ingin menunggu beberapa saat lagi untuk memulai permainan kita, tapi sepertinya aku tidak bisa mengendalikan lagi, gairahku sudah terlalu tinggi.”

Kuraba pangkal paha Janie dan kususuri celah-celah vaginanya. Memang daerah itu terasa hangat dan basah. Kurebahkan tubuh Janie terlentang, kemudian aku duduk disampingnya, sementara tanganku masih berada diantara paha Janie.

“Sepertinya daerah ini selalu hangat dan basah, tapi aku akan menanganinya dengan manis. Kamu santai saja berbaring, nggak usah terlalu tegang, enjoy dan nikmati saja apa yang kulakukan.”
“Tapi bagaimana dengan kamu sendiri?” tanya Janie.

Aku tersenyum dan berkata, “Aku akan dapat gilirannya nanti, laki-laki berbeda dengan wanita yang bisa orgasme setiap saat. Tapi nggak usah khawatir, malam ini aku masih bisa orgasme beberapa kali lagi. Sekarang kamu cukup konsentrasi untuk dirimu sendiri, nikmati yang bisa kau dapatkan. Aku akan sangat bahagia dan puas bila bisa membuat dirimu puas, OK?”

“OK, ” katanya sambil tersenyum, “Aku cuma ingin meyakinkan bahwa malam ini kau juga menikmati seperti yang aku dapatkan.”
“Setiap kali kau merasakan nikmat, aku juga ikut puas dan bahagia seperti dirimu.”
“Aku tahu yang kau maksudkan. Tadi ketika kau meluar dimulutku, aku sepertinya juga ikut keluar hanya karena melihat reaksimu ketika mencapai klimaks.”

“OK, itu yang kumaksudkan. Sekarang tidur saja terlentang dan biarkan kakakmu mengisi acara kencan pertamaku ini dengan baik. Tubuhmu yang sangat aduhai ini akan membuat setiap laki-laki dengan suka rela melakukan apa saja buatmu.”
“Dan kemudian ML,” bisiknya dengan senyuman menggoda sambil mengangkat pinggulnya dan memutar-mutar dengan gerakan sangat sexy. “Sentuhkan bagian manapun yang kau inginkan dan buatlah aku mencapai orgasme sebanyak yang kau mampu lakukan.”

Kuletakkan tanganku di atas bukit dadanya sambil berbisik, “Kenapa tidak kumulai dari sini saja? Kau memiliki sepasang bukit dada yang paling sexy diantara gadis-gadis di sekolah.”

Janie membusungkan dadanya ketika tanganku mengelus-elus bukit-bukit yang mencuat indah tersebut.
“Aku tidak yakin apakah payu daraku paling bagus, tapi memang mata mereka selalu melototi bagian ini. Umm.. Yess.. Sentuh disitu, ya ya, putingnya juga.”
Aku tahu bahwa Janie sangat senang bila tanganku meraba-raba sepasang bukit dadanya, dia juga sangat menyukai bibir dan lidahku bermain disana.
Kuturunkan wajahku dan kusapu seluruh permukaan bukit-bukit indah itu. Kujepit putingnya sebelah kiri dengan bibirku, kemudian kutarik ke atas sampai terlepas. Putting itu bergoyang-goyang sangat indahnya. Kulihat putingnya semakin mengeras dan mencuat runcing. Kutangkap lagi puting itu dengan bibirku, kuhisap-hisap dan kukilik-kilik dengan lidahku.

Kedua tangan Janie meraih leherku sambil mendesah desah, “Ohh, yes. Enak sekali.. Ooohh.. Benar-benar sangat luar biasa sekali.”
Bukan hanya Janie yang sangat senang, kukira semua laki-laki termasuk juga saya akan sangat senang untuk menangani bukit-bukit yang aduhai ini. Dengan penuh gairah aku pindah ke puting Janie yang satunya lagi, kembali kukerjai puting ini seperti tadi. Putting-puting itu telah basah oleh lidahku. Sementara aku mengerjai satu puting, puting lainnya kupilin-pilin dan kuremas-remas pelahan dengan tanganku. Kulihat puting Janie semakin keras dan merah, sehingga tampak semakin indah menggemaskan. Suara erangan dan gerakan tubuh Janie semakin liar, kelihatannya daerah ini juga memberikan sensasi birahi yang tak kalah behatnya dengan daerah pangkal pahanya. Ini benar-benar membuatku semakin penasaran, dan aku berjanji pada diriku sendiri, untuk menjelajahi seluruh bagian tubuh Janie agar aku tahu bagian mana saja dari tubuhnya yang bisa menimbulkan sensasi kenikmatan dan meningkatkan gairah sex-nya.

Sambil terus mengerjai bukit-bukit indahnya itu, aku mulai menggapai sasaran lainnya. Tanganku satunya kuturunkan dan kembali menjangkau daerah V-nya. Jari-jariku kugerakkan naik turun menyusuri bibir vaginanya yang tebal itu. Dan setiap kali menyentuh tonjolan clitorisnya, kupijat-pinyat dan kutekan-tekan pelan-pelan. Janie sepertinya sudah mulai mendekali puncak klimax-nya, tubuhnya menggeliat-geliat semakin cepat sambil merintih dan mendesis semakin keras. Pahanya dibuka semakin lebar agar tanganku lebih mudah mengeksplorasi daerah itu.

Aku semakin terpesona dengan reaksi sensualitas Janie. Aku hampir tak percaya dengan kenyataan ini. Adikku yang tadi sore masih begitu lugu dan pendiam, sekarang berubah menjadi begitu liar dan menggairahkan. Benar-benar sulit dipercaya kalau adikku ini masih berstatus perawan. Mungkin dia memang benar-benar masih perawan, tapi ternyata secara diam-diam memiliki bakat sexualitas dan gairah birahi yang sangat tinggi sekali.
Janie sepertinya semakin tidak sabar lagi menahan gairah birahinya yang sudah meluap-luap, dia raih kepalaku dan meremas-remas rambutku sambil berseru setengah menangis,

“Ohh, Rick, kau jangan menyiksaku lagi. Sentuh vaginaku, buatlah aku segera mencapai klimax lagi, aku.. Aku sudah tak tahan lagi, oohh..”
Rintihan Janie itu membuat gairah Rickie semakin menggebu, jari-jari tangannya semakin aktif mengosok-gosok celah-celah vertikal dipangkal paha Janie.

Daerah lipatan yang lembut hanyat itu semakin dibanjiri dengan cairan vagina kental dan licin. Rickie benar-benar tidak paham, bagaimana vagina Janie bisa memproduksi cairan yang sepertinya tak habis-habisnya itu. Dan kepekaan daerah itu begitu luar biasanya sehingga gairah gadis ini begitu cepat bergolak hanya dengan sedikit sentuhan saja. Gerakan tubuh Janie semakin liar, pinggulnya diangkat-angkat semakin tinggi.
“Yess.. Ooohh, aahh..”

Pada saat Janie semakin terbuai oleh gairah birahinya, aku mencoba untuk memasukkan ibu jariku ke liang kecil itu. Kutekan-tekan ujung ibu jariku sehingga melesak masuk satu ruas. Mungkin karena gairahnya sedang demikian tingginya dan juga dibantu oleh cairan vaginanya yang licin itu, aku tidak mendapat kesulitan yang berarti untuk memasukkan satu ruas ibu jariku dan sepertinya Janie juga tidak mengalami ataupun merasakan kesakitan.

Setelah itu dengan gerakan lambat kuputar ujung ibu jariku sambil kugerakkan naik-turun. Janie segera merintih setengah menjerit ketika tiba-tiba merasakan sensasi baru di vaginanya yang demikian luar biasa. Kali ini hampir seluruh tubuhnya terangkat-angkat sambil tanganya meremas seperai kuat-kuat.

Aku benar-benar terkagum-kagum dengan gerakan-gerakan Janie yang sangat merangsang, spontan, alami dan liar. Jauh lebih merangsang dari pada yang ada di film X-Rates, yang kelihatan seperti dibuat-buat dan dipaksakan. Pemandangan yang demikian menggairahkan ini membuat penisku menjadi sangat tegang sekali, bahkan sepertinya aku hampir saja membuatku orgasme, kalau aku tidak cepat-cepat mengalihkan konsentrasiku.

Disamping itu ada yang lebih penting lagi yaitu Janie masih perawan seperti juga aku, aku tidak ingin merusak keperawanannya. Apalagi hanya dengan ujung jariku. Aku benar-benar tidak berani melangkah lebih jauh kecuali dengan seijinnya dan memang Janie juga menginginkannya. Dan seandainya itu harus terjadi, aku menginginkannya dilakukan dengan cara dan suasana yang sangat indah dan mengesankan, sehingga akan menjadi kenangan yang paling manis dan indah dalam hidup kami berdua.

Untuk mengalihkan perhatian dan sekaligus semakin meningkatkan gairahnya, aku melakukan percobaan lain lagi. Sementara ujung ibu jariku masih mengobok-obok liang vagina Janie, jari telunjukku kugosokkan kebawah, ke lubang anusnya. Dari buku yang pernah kubaca, aku tahu bahwa lubang anus adalah juga termasuk salah satu daerah sensitif wanita. Maka ketika ujung jari telunjukku kumasukkan ke lubang anus Janie dan menggerakkannya keluar-masuk,

Janie tersentak kaget.
“Oh, Rickiiee.. Apa yang kau lakukan? Ohh, jijik!” seru Janie sambil mengangkat pinggulnya,
“Ooohh, tapi enak sekali, jijik.. Tapi enak, oohh.. Enak sekali kau sentuh disitu.. Ooohh yes.. Yess, ” bisik Janie.
“Aha,” pikirku, “Aku menemukan daerah erotic baru.”

Aku sangat senang sekali atas temuan baru ini, yang tentunya akan kupraktekkan di lain kesempatan. Gairahku semakin terpacu untuk menjelajahi dan menemukan semua fantasi dan gairah sexual di tubuh adikku. Suatu hal yang tadinya tidak pernah terpikirkan olehku. Dan aku yakin, sebelum malam minggu ini berakhir, aku akan mendapatkan lagi temuan-temuan baru tentang rahasia sexual kewanitaan Janie.

Dua ujung jariku masih terjepit kuat di dua lubang tubuh Janie. Kugerakkan jari jari tersebut keluar-masuk lebih cepat sambil kuputar-putar. Khusus dilubang anusnya, kutusukkan jari telunjukku semaksimal mungkin sehingga jari telunjukku tenggelam semua. Sementara aku tidak berani memasukkan ibu jariku lebih dalam lagi ke liang vaginanya, karena takut merusakkan selaput daranya.

Disamping itu bibirku tidak berhenti menghisapi dan memilin-milin puting susunya serta meremas-remas bukit dadanya dengan tanganku yang lain. Kali ini Janie benar-benar disiksa oleh serangan gencar yang datang dari berbagai penjuru. Mulutnya merintih-rintih setengah menangis sambil tubuhnya menggeliat-geliat tiada hentinya.

Tak lama kemudian Janie berteriak keras, “Ohh, Rick!!” tubuhnya mengejang, tangannya meraih bantal kemudian digigitnya keras-keras sambil menangis dan merintih kenikmatan. Kali ini Janie benar-benar menikmati pengalaman orgasme yang teramat dasyat, yang membuat sekujur tubuhnya seperti mau mededak. Akulah satu-satunya orang yang membuatnya seperti itu, aku benar-benar bersyukur untuk ini semua.

Perlahan-lahan tubuh Janie relax kembali dan tubuhnya terkulai lemas seolah tidak bertulang lagi, dan napasnya masih menderu-deru. Akupun tidur sambil memperhatikan dahsyatnya reaksi orgasme yang baru dialami adikku ini. Matanya tertutup rapat, wajahnya merah padam dan mulutnya terbuka. Sepasang bukit didadanya naik turun mengikuti nafasnya yang berpacu cepat. Benar-benar pemandangan yang sangat mempesona sekali.

Sesaat kemudian Janie membuka matanya.

“Ohh, Rick,” bisiknya, “Benar-benar luar biasa. Aku hampir tidak percaya bisa mengalami orgasme yang begitu dasyat. Aku benar-benar meledak. Benar-benar sulit dipercaya, begitu nakal menjijikkan tapi begitu nikmat sekali. Aku sangat menyukai bagian yang nakal tadi. Aku sangat menyukai kau melakukannya.”

Dipeluknya tubuhku dengan mesra sekali sambil berbisik, “Oh, Rick, aku benar-benar bahagia dengan kencan kita ini.” Diciuminya wajahku dengan wajah berbinar-binar.

Kami berbaring saling berhadapan, saling pandang tanpa berkata apa-apa, mata kami saling menjelajahi ketelanjangan tubuh kami, kami sangat senang dengan ketelanjangan kami dan juga sensasi gairah sexual yang kami lakukan. Janie akhirnya memecahkan kebisuan itu.
“Kau masih ingat ketika aku cerita tentang Lauren yang mengatakan kepadaku tentang menghisap penis?”

Aku mengangguk, dan Janie melanjutkan lagi, “Kamu paham, kau tidak boleh cerita kepada siapapun tentang hal itu! Lauren mengatakan itu adalah rahasia sangat besar, dan aku harus bisa menjaga kepercayaannya kepadaku. Maukan kamu berjanji tidak akan cerita kepada siapapun?”
“Jangan khawatir, bibirku akan selalu terkunci rapat,” kataku meyakinkan Janie.

Janie juga mengatakan bahwa Lauren tertarik kepada dirinya. Aku juga tidak ingin merusak reputasi dan masa depan gadis secantik Lauren, meskipun terjadi suatu perubahan besar dimasa datang, aku akan tetap menjaga kerahasiaan ini.

“Bagus,” kata Janie, “Sekarang aku tidak khawatir tentang itu.”
Janie melanjutkan lagi, “Aku tidak akan pernah lupa ketika Lauren menceritakan kepadaku tentang rahasia besarnya itu. Lauren dan aku mempunyai banyak kesamaan dan menjadi teman sangat akrab sehingga aku mendengar banyak rahasia tentang dia. Suatu hari ketika sedang makan siang kami berbincang-bincang tentang seorang gadis di kelas kami yang dengan bangga menceritakan bahwa dia telah menaklukan seluruh anggota team baseball. Si gadis mengklaim bahwa dia telah membuat lima anggota team orgasme dengan cara menghisap penis mereka, dan menelan semua spermanya.

Aku sangat tercengang-cengang dan tidak percaya dengan cerita itu, tapi Lauren tersenyum dan mengatakan bahwa menghisap penis pria adalah sesuatu yang menyenangkan, dan itu memang bisa terjadi. Kemudian Lauren menceritakan pengalamannya menghisap penis seorang pemuda yang ternyata menyenangkan juga. Sepanjang sore itu Lauren telah menghisap dan menelan semua sperma pria itu sebanyak tiga kali. “

“Lauren Wilton yang kau maksudkan? Lauren yang pemalu dan pendiam itu?”
“Tahukan, kenapa aku katakan bahwa Lauren bukan seorang gadis pemalu. Dia menceritakan bahwa pada saat yang sama pemuda itu juga menghisap dan menciumi vaginanya, sehingga Lauren sampai orgasme empat kali. Lauren menceritakan betapa nikmatnya ketika pemuda itu menghisap dan menciumi vaginanya, yang membuatnya mencapai puncak orgasme yang luar biasa sekali.

Kamu bisa bayangkan bahwa cerita itu membuatnya sangat terangsang sehingga hampir membuatku orgasme saat itu. Celanaku sudah basah kuyup. Aku segera menggantinya diruang ganti wanita dan melakukan masturbasi sebelum mengikuti pelajaran berikutnya.”

Aku benar-benar sulit mempercayai cerita Janie ini, tapi tidak ada suatu alasan buatnya untuk membuat cerita bohong kepadaku. Aku juga tahu kedekatan Janie dan Lauren. Mereka berdua dari luar sepertinya sangat pendiam, gadis kecil yang lugu, tapi gejolak gairah sexualnya yang sangat panas tertutup rapat oleh penampilannya yang dingin. Janie telah membuktikan kepadaku selama kencan kami ini. Mungkin selanjutnya pada Lauren juga. Wah, aku benar-benar seorang pemuda yang sangat beruntung, saat ini, adik kecilku yang begitu hot terbaring dengan telanjang bulat dalam pelukanku dan keadaan yang serupa kemungkinan bisa pada temannya yang sexy itu.

“Lauren telah berhasil menyimpan rahasia itu dengan baik. Biasanya ketika seorang gadis mendapatkan pengalaman yang sangat baik, mereka sulit untuk tidak menceritakan ke orang lain, ” kataku.

“Itu tidak tepat juga. Itulah pentingnya agar kita tidak menceritakannya kepada orang lain. Termasuk apa yang kita lakukan berdua. Kita yakin tidak akan cerita bukan?” bisik Janie.
“Wah, pasti tidak!” kataku, “Mama dan Papa bisa membunuh kita kalau mereka tahu, dan teman-teman kita juga bisa mentertawakan dan mencemooh kita.”

Janie tersenyum manis dan berkata, “Tapi bukan berarti kita mengakhirinya bukan?”
“Tidak!” kataku sambil tersenyum juga, “Itu berarti kita harus semakin hati-hati, sehingga orang tua kita tidak curiga. Disamping itu, aku tidak yakin lagi melakukan masturbasi sendiri setelah tahu kau bisa memberikan yang jauh lebih baik.”

“Aku juga, ” bisik Janie, “Aku sangat menyukai caramu membuat aku orgasme.” Kata Janie sambil mencium bibirku dengan sangat mesra sekali.

Beberapa detik kemudian kami sudah tenggelam dalam ciuman yang hot dan menggairahkan sekali. Aku benar-benar terkejut, hanya dengan cerita masturbasi kita, Janie spontan meledak gairahnya. Aku memang sudah bergairah sejak tadi karena melihat kemulusan dan kemolekan tubuhnya, tapi Janie dalam waktu beberapa detik sudah langsung sampai ketingkat yang sama dengan gairahku.

Janie kembali melepaskan ciumannya sambil bertanya,
“Kamu tidak menanyakan siapa pemuda pasangan Lauren. Kamu tidak ingin tahu?”
“Yeah, tapi kupikir itu adalah bagian paling rahasia yang tidak ingin kau ceritakan kepadaku.”
“Well, bagian itu memang paling rahasia dari semuanya. Kamu tahu, aku dan Lauren mempunyai banyak kesamaan. Dan salah satu alasan kita bahwa pemuda itu adalah..” Janie tersenyum kemudian meneruskan kata-katanya,

“Pemuda itu adalah kakaknya Alec.”“Wah!!” bisikku kaget, “Lauren dan Alec? Mereka melakukan seperti yang kita lakukan?”
Janie menatap tajam mataku dan berbisik, “Tidak sama persis.”
“Apa maksudmu tidak sama persis?”
“Maksudku, ” Janie berbisik, “Mereka melakukan lebih dari pada kita!”“Lebih?? Maksudmu mereka..?”
“Ya, mereka telah melakukan semuanya.”
“Alec dan Lauren.. ML?”

Dengan tidak melepaskan pandangan matanya, Janie berbisik lebih pelan, “Ya, dan Lauren sangat menyukainya.”

Aku langsung membayangkan Alec dan Lauren sedang berbaring diatas ranjang, Alec menindih tubuh Lauren seperti laki-laki yang ada di film itu. Bayanganku bahkan lebih dari pada adegan film, kubayangkan penis Alec dimasukkan ke liang vagina Lauren, liang itu terisi begitu penuh, tidak ada lagi ruang di antaranya, bergerak naik-turun.. Batang penisku lasung berdiri tegang sekali ketika membayangkan kakak dan adiknya melakukan ML, benar-benar ML.

Janie menaikkan kakinya ke atas pahaku dan pelahan tubuhnya merayap menindih tubuhku, tubuh dan pinggulnya bergerak-gerak pelahan, kulit tubuh kami saling bergesekan dengan lembut. Pangkal pahanya bergesekan ketat dengan batang penisku, kurasakan kebasahan dan kehangatan disana. Tangan Janie meraih kebawah, batang penisku digenggamnya dan dipandunya menuju liang vaginanya. Ketika ujung penisku sudah tepat di gerbang liang vaginanya, Janie menekan pinggulnya kebawah, batang penisku yang sudah sangat tegang siap menembus liang sempit itu.

Hatiku berdebar keras, aku tidak berani bergerak, takut batangku menembus masuk ke liang vagina Janie, adikku sendiri. Aku cuma menunggu yang dilakukan Janie selanjutnya.
“Ooohh, Janie,” desahku pelan sambil menahan sensasi dan gairah yang berkecamuk di dalam dadaku.

“Bolehkah kita melakukan semuanya juga? Seperti laki-laki dan permpuan di film? Seperti juga yang dilakukan Lauren dan Alec?”
“Kamu benar-benar menginginkannya? Wah, Janie, kamu benar-benar menginginkan aku melakukannya padamu?”
“Ya! Oh, Wah, ya! Itu sebabnya aku mengambil beberapa kondom di pompa bensin ketika kita berhenti disana. Itu sebabnya aku minta berhenti sebentar disana, sehingga aku bisa mengambilnya.”

Aku tidak tahan untuk tertawa. “Kamu mengambil beberapa kondom? Aku juga!”
Mata Janie melotot, “Kamu mengambilnya untuk digunakan kepadaku?”
“Aku mengambilnya hanya untuk jaga-jaga bila kamu menginginkannya berlangsung lebih jauh. Aku tidak akan berani melangkah lebih jauh dari yang kau kehendaki.”

Janie menggerakkan pinggulnya pelan-pelan sambil menekan-nekan kebawah. Ujung penisku mengintip-intip ke dalam liang vaginanya. Tubuh kami berdua bergetar dan berdebar-debar.
Tiba-tiba Janie memberikan ciuman kilat sambil berkata, “Aku menginginkan kita meneruskan sejauh yang kita bisa lakukan. Aku menginginkan kita melakukan APA SAJA. Aku tidak yakin kita bisa memperoleh kesempatan yang lebih baik dari pada malam minggu ini. Oh, cepat ambil kondom dan kita gunakan sekarang.”

Janie menekan lagi pinggulnya kuat-kuat sehingga ujung kemaluanku sepertinya hampir melesak ke dalam liang vaginanya, tapi kemudian diangkatnya lagi sambi berkata, “Penis ini sepertiga sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam, cepat ingin merasakannya sekarang.”

Aku segera berguling kepinggir ranjang, meraih celanaku celanaku dan mengambil sebuah kondom. Segera kubuka bungkusnya dan memasangnya di batang penisku. Kondom itu jenis berpelumas, tipis dan terasa sensual membungkus penisku. Perasaanku semakin berdebar-debar, akhirnya aku akan segera merasakan penisku masuk ke liang kecil, sempit dan hangat itu, dan aku akan ML untuk pertama kalinya.

Yang kuperlukan sekarang adalah bagaiman caranya agar proses itu dilakukan dengan sebaik-baiknya. Janie sudah tidak sabar lagi menungguku. Kita berdua akan melepaskan keperawanan dan keperjakaan secara bersama-sama dan menikmatinya bersama.

Begitu selesai persiapanku, aku posisikan tubuhku diantara paha Janie yang sudah terbuka lebar. Janie berbaring terlentang dengan menekuk kedua lututnya dan kedua telapak kakinya bertumpu kuat di ranjang. Celah vaginanya yang berwarna pink mengkilat basah dan terbuka lebar, clitoris dan liang vaginanya terpampang jelas. Kubimbing ujung penisku dan kutempelkan tepat di gerbang liang vagina itu, dan pelahan lahan kutekan masuk..

Setelah ditekan agak keras, ujung kemaluanku mulai melesak masuk ke liang sempit itu. Kutarik sedikit dan kembali kutekan, begitu seterusnya sampai ketika ujung penisku yang berbentuk topi baja itu sudah melesak masuk, kutemukan adanya dinding penghalang disana. Akupun segera menyadari bahwa itu adalah selaput daranya. Aku segera memberi peringatan kepada Janie tentang selaput daranya itu.

“Janie aku akan segera menembus selaput daramu. Ini mungkin akan terasa sakit, jadi aku akan kuusahakan dengan pelan-pelan.”
Janie tersenyum dan berkata, “OK. Lauren mengatakan agak sakit ketika pecah, tapi sakitnya segera hilang beberapa saat kemudian. Aku akan menekan ketika kau melakukannya jadi kita melakukannya bersama agar segera selesai.”

Kutekan pinggulku pelan-pelan, demikian juga Janie mengangkat pinggulnya ke atas, tapi tiba-tiba Janie menyentakan pinggulnya ke atas sehingga penisku langsung amblas ke dalam liang vagina itu.
“Oh, Janieeee…., sorry, aku tidak sengaja melakukan begitu keras.”

Kulihat wajah Janie merah padam menahan sakit, tapi tetap bersusaha tersenyum, “Bukan salahmu, aku yang menginginkannya, jadi aku memang sengaja menekan kuat-kuat.”
Memang Janie yang menekan pinggulnya kuat-kuat ke arahku sehingga pangkal batang penisku kini menempel ketat di bibir vaginanya.

“Ternyata tidak terlalu sakit, dan sekarang sakitnya mulai berkurang. Rick, aku merasakan batang penismu memenuhi seluruh rongga liang vaginaku.. Aku sangat menyukainya Rick, aku sudah lama menunggunya,” matanya masih lekat menatapku, Janie berbisik, “Aku sekarang sudah tidak perawan lagi.”

“Well, ya betul, tapi secara teknis aku masih perjaka sampai aku orgasme.”
Kurasakan otot-otot vagina Janie menjepit kuat batang penisku. Janie berbisik lagi, “Kupikir aku bisa menyelesaikannya sebentar lagi, betulkan?”

Kutarik batang penisku sampai tiga perempat bagian kemudian kutekan masuk lagi. Tubuh kami bergetar ketika kami rasakan gesekan antara batang penisku dan dinding vagina Janie yang menjepit kuat itu menimbulkan sensasi kenikmatan yang luar biasa. Kami mengerang dan mendesis bersama. Ini benar-benar merupakan pengalaman baru, rasa sensasi baru yang begitu nikmat dan benar-benar sulit untuk digambarkan.

“Wah, Janie, ini benar-benar nikmat sekali.. Nikmat, oohh, ya, kamu benar-benar akan bisa menyelesaikan, ohh, nikmat sekali.. “

Jepitan, gesekan dan kehangatan liang vagina Janie terasa begitu luar biasa setiap kali kugerakkan batang penisku. Janie tidak mampu lagi membuka matanya. Sensasi kenikmatan yang dasyat telah melambungkan jiwanya terbang kelangit.

“Ooohh,” erangnya setengah berbisik, “Aku benar-benar memahami mengapa Lauren begitu menyukainya.” Kedua tangannya memeluk pinggangku dan menariknya kuat-kuat, “Ya, masukkan yang dalam, masukkan terus, oohh, masukan!! Aaahh!!” rengek Janie setengah menjerit.
Matanya terbeliak memandang ke arahku, mulutnya terbuka, sorot wajahnya benar-benar sangat menggairahkan. Gairah kenikmatan birahi yang begitu dasyat benar-benar telah menggetarkan seluruh tubuhnya. Hanya dalam waktu singkat Janie sepertinya langsung mencapai orgasmenya lagi.

“Oooh.. Rick.. Aku keluar lagi.. Ohh!! Penismu benar-benar luar biasa.. Aku benar-benar keluar lagi!!” Kedua tangan Janie meraih pinggulku, menariknya kuat-kuat ke arah pinggulnya sehingga penisku terasa menekan kuat dasar liang vaginanya.
“Keluarkan Rick, oohh.. Keluarkan cepat, ayo keluarkan bersamaku…!!”

Janie mencium bibirku dengan penuh gairah, bibir dan lidah kami saling bergulat. Nafas kami memburu sangat cepat, tubuh kami ikut bergerak semakin cepat. Kugerakkan pinggulku naik turun dengan cepat, sementara Janie menggeliat-geliat bagai cacing kepanasan, pinggulnyapun bergerak semakin cepat mengikuti gerakanku. Kami berdua benar-benar hampir kehilangan kesadaran..

Erangan dan jeritan Janie semakin keras, bahkan hampir setengah berteriak. Dan tiba-tiba kurasakan denyutan-denyutan kuat di batang penisku ketika puncak klimaksku tercapai. Spermaku menyembur begitu kuatnya di dasar liang vagina Janie..

Kami berdua benar-benar mencapai klimaks yang paling luar biasa secara hampir bersamaan. Kedua kaki Janie menjepit pinggulku kuat-kuat agar seluruh tubuh kami berhimpit dan menyatu lebih kuat, sepertinya dia tidak rela kalau masih ada ruang diantara tubuh kami. Janie sangat menikmati setiap kontraksi didalam liang vaginanya ketika spermaku menyembur berkali-kali. Kurasakan bagian ujung kondom menjadi hangat dan penuh oleh spermaku.

Dan peristiwa yang sangat mengejutkanku terjadi lagi, tiba-tiba tubuh Janie mengejang kembali, liang vaginanya kembali berkontraksi. Aku benar-benar tidak habis mengerti, ternyata Janie kembali mencapai orgasmenya.
Janie berteriak keras-keras, “Aaahh.. Aku keluar lagi.. Aaahh. “

Batang penisku yang masih tegang itu segera kugerakkan lagi naik turun dengan cepat. Seluruh tubuh Janie bergetar dan mengejang semakin kuat.. Akhirnya ketika kurasakan ketegangan tubuh Janie mulai menurun, kuturunkan pula kecepatan gerakku, dan akhirnya pinggulku berhenti bergerak.

Napas kami mulai mereda. Tapi tubuh kami masih saling berpelukan dengan erat. Bibir kami masih saling menyentuh dan membelai. Janie sepertinya masih tidak rela untuk melepaskan tubuhku. Masih terdengar bisikan-bisikan Janie seperti menggigau memanggil namaku, “Wah, Rick.. Rick.. Ohh Rick. “

Pelahan-lahan ketegangan batang penisku menyusut dan menyusut, kemudian terlepas dari liang vagina Janie, Janie berbisik, “Ooohh hilang sudah.”

Kuciumi wajahnya dengan lembut dan mesra. Janie membuka matanya dan tersenyum manis sekali, “Aku telah melakukannya dengan baik bukan? Kau sudah tidak perjaka lagi, demikian juga aku. Sekarang aku sudah menjadi wanita yang sempurna.”

Janie memandang wajahku. Sinar kepuasan yang teramat sangat terpancar diwajahnya.
“Benar-benar luar biasa Rick. Aku tidak mampu untuk menggambarkan dengan kata-kata lagi. Aku yakin setiap anak gadis sangat mengharapkan saat pertamanya berlangsung seperti itu. Terimakasih Rick, kau memberiku kencan pertama yang begitu indah.”

“Setiap laki-laki juga menginginkan pengalaman pertamanya berlangsung sangat indah. Terimakasih Janie, kau telah memberikan yang sangat luar biasa kepadaku.”

Janie tersenyum semakin manis. Kami berciuman lagi dengan sangat mesra sekali. Kami benar-benar sangat berbahagia bisa memberikan yang terbaik buat pasangan kami. Penisku semakin mengecil, kurasakan sebagian cairan sperma meleleh keluar dan membasahi pahaku.

“Aku perlu membersihkan ini dulu Jan. Cairan spermaku mulai meleleh keluar. “
“Tidak heran,” kata Janie. “Kamu pasti sudah mengeluarkan sperma satu galon. Aku dapat merasakannya setiap kali keluar. Yang kuherankan, bagaimana kau bisa mengeluarkan begitu banyak?”

Aku tertawa dan berkata, “Aku juga heran, cairan vaginamu selalu keluar setiap saat membuat celana dalammu selalu basah. “
“Aku kira itu membuat kita menjadi pasangan bercelana dalam panas, bukan?”
“Untuk kamu, lebih cocok celana dalam basah. Aku lebih suka celana dalam basah dari pada celana dalam panas, betulkan?”Janie tersenyum manis, “Kamu bisa saja. “

Aku pergi ke kamar mandi untuk melepas kondom dan membersihkan penisku. Ketika aku kembali kekamar Janie berkata, “Kenapa kamu tidak tidur disini malam ini? Orang tua kita pergi sehingga kita bebas melakukan apa saja. Kencan kita akan lebih menyenangkan bila kau tidur bersamaku malam ini.”

“Aku tidak mungkin menolak permintaan ini, ” kataku tersenyum.
“Bagus, sekarang matikan semua lampu, ayo tidur bersamaku. “
Aku segera mematikan lampu kamar. Tapi sebelum menekan skakelar lampu, aku memandang tubuh Janie dulu.
“Kamu benar-benar sangat cantik Jan”

Janie tersenyum, tapi kemudian berkata dengan nada setengah cemburu, “Aku berani bertaruh bahwa kau akan mengatakan seperti itu kepada semua gadis telanjang yang kamu lihat.”
“Yep, aku akan mengatakan begitu kepada semua gadis yang telanjang,” kataku menggoda.
“Mata keranjang. Sekarang matikan lampu dan tidur bersamaku.”

Ketika aku naik ke ranjang, Janie segera menutupi selimut ketubuh kami berdua dan kemudian merapatkan tubuh telanjangnya ke tubuhku.
“Aku belum pernah tidur dengan seorang pemuda yang telanjang, aku ingin menikmati pengalaman ini,” bisiknya.
“Mata keranjang,” bisikku.

Janie tertawa dan memelukku lebih erat. Sesaat kemudia kudengar nafas Janie yang berirama teratur, menandakan bahwa gadis ini telah tertidur lelap. Untuk beberapa saat aku masih terjaga sebelum akhirnya menyusulnya tertidur pulas.
Tengah malam aku merasakan sensasi yang begitu nikmat merayapi tubuhku, seperti mimpi setengah sadar. Aku bermimpi seseorang mengusap-usap batang penisku sehingga membuatnya tegang kembali. Kurasakan tangan-tangan halus yang mengocoknya dengan lembut yang menimbulkan sensasi kenikmatan. Sesaat kemudian kurasakan kehangatan dan kebasahan di ujung penisku, seperti perasaan yang kurasakan ketika Janie mengulum dan menghisap penisku dengan mulutnya. Sensasi kenikmatan itu begitu luar biasa sampai membuatku terbangaun, aku sepertinya sedang mimpi.

Tapi ketika kubuka mataku, dari kegelapan kulihat bayangan di atas ranjang, rebah dibagian bawah tubuhku, kudengar suara berisik dari gerakan mulutnya yang menghisap-hisap batang penisku dan mengocok naik turun. Sekarang aku benar-benar tersadar sepenuhnya, kulihat kenyataan dimana Janie rebah diatas tubuhku sedang asyik menghisap dan mengocok-kocok penisku, yang menimbulkan sensasi kenikmatan yang luar biasa. Aku mengangkat pahaku sambil berseru,

“Oh, Janie, nikmat sekali. Kupikir aku sedang mimpi. “
“Kupikir kau tidak akan bangun. Aku khawatir kamu orgasme tanpa sempat terbangun dan aku tidak mendapat kesempatan menikmatinya. Aku terbangun beberapa menit yang lalu dan berpikir tentang apa yang baru saja kita lakukan. Membayangkan itu aku jadi terangsang dan bergairah kembali, sehingga aku tidak sabar untuk menunggunya sampai pagi.” Janie memegang sesuatu ditangannya.

“Kemarilah, aku sudah mengambil kondom yang kuambil tadi di pompa bensin. Aku pasangkan dan biarkan aku kerjakan semuanya. Aku hanya menginginkan kamu rebah terlentang dan menikmati apa yang kulakukan. “

Janie dengan cekatan memasang kondom di penisku. Sentuhan tangannya yang lembut membuat penisku bangkit semakin menegang dan siap untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Dari keremangan sinar lampu kecil di meja, dapat kulihat tubuh Janie merayap dan menindihku. Satu tangannya memegang batang penisku dan menempatkan tepat di liang vaginanya, kemudian tubuhnya diturunkan sehingga ujung batang penisku menekan kuat tepat di gerbang liang vaginanya. Dengan posisi duduk di atas pangkal pahaku, kedua tangan Janie bertumpu diatas dadaku.

Sesaat Janie menarik napas dalam-dalam, kemudian pelahan-lahan menurunkan punggulnya, pelan-pelan sekali, inchi demi inchi batang kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang vagina Janie yang sempit itu. Diangkatnya lagi sedikit kemudian pelan-pelan ditekan lagi kebawah. Liang itu masih sama seperti tadi, sempit dan kuat sekali jepitannya. Hanya bedanya tidak ada lagi halangan selaput perawannya. Janie sepertinya juga masih merasakan pedihnya bekas luka di dalam liang vaginanya. Tapi sensasi gesekan batang penisku dengan dinding liang vaginanya begitu luar biasa sehingga tubuh kami gemetar menahan kenikmatan yang tidak terhingga. Pelahan-lahan Janie meneruskan gerakannya sampai akhirnya seluruh batang penisku tenggelam di liang vaginanya.

“Yeess,” bisik Janie ketikan ujung penisku terasa menekan kuat dasar liang vaginanya,
“Ini yang kuinginkan, aku benar-benar bisa merasakan batang penismu memenuhi seluruh rongga liang vaginaku lagi. “

Sesaat kemudian Janie menggerakkan pinggulnya naik-turun, menekan vaginanya ke batang penisku yang bergiri tegak bagai tongkat kayu.

Nafas Janie mulai memburu dan aku dapat melihat dengan jelas bagaimana tubuh Janie terguncang-guncang naik turun. Wajahnya menyeringai menahan nikmat yang teramat sangat dan dari mulutnya keluar suara erangan, rintihan dan desisan-desisan yang berirama sangat merangsang. Dan Wah.. Sepasang bukit indah di dadanya itu terguncang-guncang sangat indah sekali..

Aku tidak mampu lagi hanya pasif menunggu Janie mencapai orgasmenya. Pemandangan di depan mataku yang begitu menggoda membuatku terpaksa bertindak. Segera kuraih tubuhnya dan puting kecil yang terguncang-guncang itu kutangkap dengan bibirku. Kuhisap-hisap sambil tanganku ikut meremas-remas dan mengusap-usapnya.

“Ooohh, yes, hisap putingku, aahh yes.. teruuss.” kata Janie sambil tubuhnya menegang.
“Sekarang satunya, yeess.. aahh.. nikmat sekali,” kata Janie sambil tidak menghentikan gerakan pinggulnya.
“Ooohh, Janieeeee….., Wah, nikmat sekali. Aku benar-benar senang kau bangunkan aku.”
Gairah Janie melesat naik begitu cepatnya. Kusarakan getaran kontraksi di liang vaginanya. Wajah Janie mendongak ke atas sambil menjerit.. Kedua tangannya memegang kedua bukit dadanya dan menggosok-gosoknya dengan cepat.

Bersamaan dengan itu penisku juga ikut kesetrum, kurasakan denyutan-denyutan kuat ketika spermaku menyembur berkali-kali. Kupegang pinggul Janie kuat-kuat, kemudian kugerakkan pinggulku maju-mundur sehingga pangkal batang penisku bergesekan kuat dengan bibir vagina Janie.

Pada saat mencapai klimaksnya, tubuh Janie mengejang kuat sehingga dia tidak mampu lagi mengangkat pinggulnya. Gerakanku memang benar-benar sangat diharapkannya, membuat kontraksi puncak orgasme kami berlangsung lebih lama lagi.
“Yes, yeess!! Aaahh, teruuss.. Aaahh, ” teriakan Janie melengking memenuhi ruangan. Puncak orgasme Janie benar-benar meledak sangat dasyat sekali.

Aku juga merasakan sensasi yang sangat luar biasa. Orgasmeku kali ini sepertinya lebih dasyat dari yang kurasakan sebelumnya. Demikian hebatnya sensasi yang kurasakan sehingga sepertinya nyawaku terbang meninggalkan tubuhku.. Melayang-layang jauh entah kemana. Entah berapa saat aku benar-benar tidak sadarkan diri. Sampai beberapa saat kemudian kurasakan ketegangan vagina Janie yang menjepit batang penisku terasa mengendor kembali, tapi nafasnya masih memburu keras.

“Ohh.. Aku mendapatkannya lagi.. Lebih nikmat dari yang sebelumnya.. Setiap kali lebih baik” bisik Janie sambil mengatur nafasnya.

Janie masih rebah diatas tubuhku, dan penisku masih tertanam didalam liang vaginanya sampai nafasnya kembali normal dan juga getaran otot dan saraf dibubuhnya kembali relax. Penisku pun kemudian terlepas dari liang vaginanya dengan mengeluarkan suara ‘pop’ dan terkulai lemas dipahaku. Janie kemudian berguling dan rebah terlentang kesamping tubuhku.

Janie meraih penisku dan memegangnya dengan lembut sambil berkata, “Tidak ada lagi yang akan mengganggu tidur kita, mari kulepas karet ini.”
Pelahan dilepasnya kondom dari penisku dan dijatuhkannya ke lantai disamping tempat tidur sambil berkata, “Aku akan membersihkannya besok pagi. “
Janie kembali memegang batang penisku sambil berkata, “Tapi penismu ini jadi lengket lagi kan? Aku harus membersihkannya lagi.” Janie kemudian membungkukkan badannya dan batang penisku kembali dikulumnya, dijilati sampai bersih dari sisa-sisa cairan lendir yang lengket itu.

Malam ini aku benar-benar telah relax setelah menumpahkan seluruh orgasme-ku, aku kembali tidur dengan cepat dan nyenyak sekali. Janie benar-benar memenuhi janjinya untuk tidak membangunkan aku lagi malam itu.

E N D.


@



0 komentar:

Posting Komentar - Kembali ke Konten

Kencan dengan janie